Senin, 23 Januari 2012

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA METABOLIT SEKUNDER EKSTRAK ETANOL DAUN ILER (Coleus atropurpureus (L) Benth)


MAKALAH

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA
METABOLIT SEKUNDER EKSTRAK ETANOL  
DAUN ILER (Coleus atropurpureus (L) Benth)


Diajukan sebagai Kelengkapan Tugas
Mata Kimia Bahan Organik Alam


Frederik K.L.
071314013


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PEGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2010

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
           Kekayaan hutan tropis Indonesia dengan keanekaragaman hayati, cukup potensial sebagai aset pembangunan nasional. Kekayaan tersebut, selain dimanfaatkan sebagai bahan makanan, bahan bakar dan juga sebagai bahan industri. Hutan tropis Indonesia dapat pula dimanfaatkan sebagai sumber senyawa-senyawa kimia yang dapat dikembangkan secara optimal untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sebagai contoh adalah bahan obat-obatan dan bahan pewarna serta zat aditif pada makanan  (Sawal, 1997).
           Pemanfaatan sumber daya alam hayati sebagai penghasil senyawa-senyawa kimia yang potensial terus dikembangkan oleh para ahli kimia khususnya kimia organik bahan alam karena jumlah dan varietasnya yang cukup banyak dan masih kurang yang diketahui kandungan kimianya. Sekitar 250.000 jenis tumbuhan tingkat tinggi di dunia, tumbuh sekitar 50% diantaranya di hutan tropis. Akan tetapi, keseluruhan jenis tumbuhan tingkat tinggi itu baru sekitar 0,4% yang telah diselidiki kandungan kimianya (Achmad, dkk, 1995)
        Iler (Coleus atropurpureus (L) Benth) atau yang biasa dikenal dengan sebutan “Miana” merupakan tanaman yang banyak tumbuh di daerah tropis, terutama di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Tanaman tersebut termasuk ke dalam tanaman hias yang biasanya digunakan sebagai obat tradisonal dalam masyarakat.
Tanaman iler mempunyai banyak kegunaan terutama pada batang dan daun yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sayuran dan yang paling penting yaitu dapat digunakan untuk obat tradisional. Batang dan daun iler digunakan sebagai obat wasir, bisul, borok, radang telinga, ambeien, terlambat haid, masalah pencernaan dan masih banyak penyakit lain yang dapat diobati dengan menggunakan tanaman iler. Kandungan senyawa kimia tanaman iler/ miana berupa Lendir, minyak atsiri, alkaloid, flavonoid, saponin.
Melihat potensi yang dimiliki oleh tumbuhan ini, khususnya pemanfaatannya sebagai obat-obatan tradisional, maka penelitian terhadap kandungan kimianya dianggap penting. Terutama terhadap daun dari tanaman iler yang mana diharapkan dapat dimanfaatkan dengan melalui proses isolasi daun tanaman iler.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas, maka rumusan masalah yang akan diuraikan dalam penelitian ini adalah “Seberapa besar kandungan alkaloid yang terdapat dalam ekstrak etanol daun iler ?”.
C. Tujuan Penelitian
           Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan alkaloid dari ekstrak etanol daun iler (Coleus atropurpureus (L) Benth).
D. Manfaat Penelitian
           Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah :
  1. Sebagai bahan informasi mengenai kandungan senyawa kimia yang terdapat dalam daun iler.
  2. Dapat memberikan sumbangan bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya kimia organik bahan alam dan menjadi pemacu bagi ilmu-ilmu terkait seperti kesehatan, farmasi, biokimia dan kedokteran.
  3. Senyawa kimia yang diperoleh dapat dijadikan sebagai bahan baku dalam bioindustri, agroindustri, dan lain-lain.

BAB  II
TINJAUAN PUSTAKA



A.    Uraian Umum Tanaman Iler (Coleus atropurpureus (L) Benth)
1.      Morfologi Tumbuhan dan Tempat Tumbuh
Text Box:  

Gambar 1. Iler






Gambar 2.1. K. hospita  Linn.
Iler (Coleus atropurpureus (L) Benth)
Merupakan tumbuhan semak, herba tegak dan merayap dengan tinggi batang pohonnya berkisar 30 cm sampai 150 cm. Daunnya berbentuk hati pada setiap tepinya dihiasi oleh jorong-jorong atau lekuk-lekuk tipis yang bersambung dan di dukung oleh tangkai daun. Bunganya muncul pada pucuk tangkai batang berbentuk untaian bunga bersusun. Iler mempunyai penampang batang berbentuk segi empat dan termasuk kategori tumbuhan basah yang batangnya mudah patah. Iler dapat tumbuh subur di daerah dataran rendah sampai ketinggian 1500 m diatas permukaan laut. Keistimewaan tanaman ini adalah beraneka ragam jenis warna daun yang dimiliki. Iler biasa ditemukan disekitar sungai atau pematang sawah dan tepi-tepi pedesaan sebagai tumbuhan liar. Iler sekarang menjadi tumbuhan hias yang telah berkembang dengan berbagai varitas yang indah (Thomas, 1992).
Tanaman ini dikenal dengan nama daerah daun miana. Tanaman yang dikelompokkan ke dalam jenis tanaman hias ini ternya memiliki khasiat yang sangat banyak. Banyak penelitian yang telah dilakukan terhadap jenis tanaman ini (Mahendra, 2005).
Taksonomi Tanaman ILer
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisio: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisio: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
 Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
 Sub Kelas: Asteridae
 Ordo: Lamiales
 Famili: Lamiaceae
 Genus: Coleus
 Spesies: Coleus atropurpureus (L) Benth
2.      Nama Daerah
Untuk setiap daerah, Iler (Coleus atropurpureus (L) Benth) meliliki nama yang berbeda antara lain : Kentangan (Jawa); Jewer Kotok (Sunda), tanaman yang di Cina disebut tzai ye cao itu banyak ditanam di pekarangan sebagai tanaman hias daun, Masyarakat Kawanua (Menado dan sekitarnya) menamakan bunga bayam untuk tanaman hias, untuk obat disebut daun mayana. Tanaman iler memiliki nama lain seperti si gresing (Batak), adang-adang (Palembang), pilado (sumbar), dhin kamandhinan (Madura), serewung (minahasa), seru-seru (bugis). Daerah asal tanaman ini yaitu dari kawasan Asia Tenggara.
3.      Sifat Dan Khasiat
         Tanaman iler baunya harum, rasanya agak pahit, sifatnya dingin. Berkhasiat sebagai peluruh haid (emenagog), perangsang nafsu makan, penetralisir racun (antitoksik) yaitu dapat diminum atau sebagai obat luar bila tergigit ular dan serangga beracun, menghambat pertumbuhan bakteri (antiseptik), menbuyarkan gumpalan darah, mempercepat pematangan bisul dan pembunuh cacing (vermisida), mengandung minyak atsiri, antara lain karvakrol yang bersifat antibiotik, eugenol bersifat menghilangkan nyeri, etil salisilat menghambat iritasi, Penelitian Fakultas Farmasi Universitas Tujuh Belas Agustus Jakarta menunjukkan, senyawa kimia polar tanaman iler menghambat pertumbuhan sel leukeumia L-1210, tanaman iler memiliki efek diuretik yang memperlancar pengeluaran kotoran melalui urine, jadi mempercepat penyembuhan penyakit kencing manis, memperbaiki gangguan saluran cerna, memperlancar buang air besar, mengatasi keputihan dan demam setelah melahirkan.
4.      Kandungan Kimia
           Di dalam tanaman iler (Coleus) terkandung zat-zat yang berkaitan dengan kesehatan dan telah dibuktikan hanya terdapat di dalam tanaman iler. Tanaman iler  mengandung berbagai komposisi senyawa kimia yang bermanfaat, antara lain: alkaloid, etil salisilat, mineral, metil eugenol, eugenol, karvakrol, dan timol (Thomas, 1992: 40).
Daun iler mengandung minyak atsiri, antara lain karvakrol yang bersifat anti biotik, eugenol bersifat menghilangkan nyeri, etil salisilat menghambat iritasi. Hasil penelitian Elly Masruroh (2005) menyatakan bahwa Tumbuhan iler (Coleous scutellarioides (L.) Benth.) merupakan salah satu tumbuhan yang dapat digunakan sebagai obat tradisional. Hasil infus daun iler (Coleous scutellarioides (L.) Benth.) dapat digunakan sebagai penghambat pertumbuhan jamur Candida albicans. Hal ini disebabkan bagian tumbuhan tersebut mengandung tanin yang secara farmakologi dapat bermanfaat sebagai antijamur.
B.     Isolasi Senyawa Bahan Alam
Bahan tanaman terutama biji dan daun banyak mengandung lemak dan lilin yang bersifat sangat non polar dan dapat menimbulkan emulsi sehingga senyawa-senyawa tersebut perlu dipisahkan dari bahan tanaman dengan cara perkolasi sebagai langkah awal. Setelah lemak dipisahkan bahan tanaman kemudian dapat diekstrak dengan menggunakan bahan pelarut air, etanol, methanol, campuran alkohol berair atau dengan larutan alkohol berair yang diasamkan.
Secara umum metode kromatografi menggunakan dua fasa, yaitu fasa tetap dan fasa bergerak (mobile). Kromatografi dibedakan berdasarkan sifat fasa tetap baik berupa zat padat atau zat cair. Empat macam metode kromatografi tersebut adalah :
1.      Fasa bergerak zat cair, fasa tetap padat atau kromatografi serapan. Yang termasuk metode ini adalah kromatografi lapis tipis dan kromatografi penukar ion.
2.      Fasa bergerak gas, fasa tetap padat. Yang termasuk metode ini adalah kromatografi gas padat.
3.      Fasa bergerak zat cair, fasa tetap zat cair atau kromatografi partisi. Yang termasuk metode ini adalah kromatografi kertas.
4.      Fasa bergerak gas, fasa tetap zat cair. Yang termasuk metode ini adalah kromatografi kolom kapiler.
Pemisahan terjadi karena komponen cuplikan bergerak dengan jarak yang berbeda disebabkan oleh perbedaan kecepatan rambatan dari komponen yang dipisahkan. Kemudian terjadi pemisahan komponen disebabkan karena adanya distribusi antara dua fasa yaitu fasa gerak dan fasa tetap. Pemisahan kandungan tumbuhan dapat dilakukan dengan menggunakan salah satu atau gabungan empat metode kromatografi, yaitu kromatografi kertas, kromatografi lapis tipis, kromatografi kolom, dan kromatografi zat cair.
1.      Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
Kromatografi lapis tipis adalah metode kromatografi yang banyak digunakan untuk memisahkan komponen secara tepat. Kromatografi ini menggunakan lempeng kaca sebagai fasa diam yang dilapisi adsorben berupa serbuk halus dengan ketebalan 0,1 – 1,25 mm.
Yang perlu diperhatikan dalam memilih adsorben adalah besar partikel dan homogenitasnya. Besar partikel yang digunakan adalah 1 – 25 mikron. Partikel dengan butiran sangat kasar tidak dapat memisahkan komponen dengan baik. Adsorben yang dapat digunakan adalah Silika gel, Alumina atau Selulosa. Pembuatan lapisan tipis dilakukan dengan jalan membentangkan adsorben yang dipilih di atas lempeng kaca kemudian dikeringkan selama beberapa menit selanjutnya diaktifkan dengan pemanasan pada suhu 100oC akan tetapi sekarang lempeng kaca yang telah siap pakai banyak digunakan dengan ketebalan dan jenis adsorben yang berbeda-beda.
Campuran yang akan dipisahkan berupa larutan kemudian ditotolkan pada lempeng kaca (pelat). Pelat atau lempeng kaca dimasukkan dalam bejana rapat yang berisi larutan pengembang yang cocok (fasa gerak). Pemisahan akan terjadi selama perambatan yang dipengaruhi gaya kapiler.
Fasa gerak adalah medium angkut yang terdiri dari satu atau beberapa pelarut. Pemilihan fasa gerak (pelarut pengembang), tergantung pada sifat kelarutan dan kemampuan elusi pelarut tersebut. Pelarut pengembang akan bergerak dalam fasa diam yaitu suatu lapisan bepori karena dipengaruhi gaya kapiler. Pelarut pengembang yang digunakan merupakan campuran organik. Campuran pelarut tersebut dapat berupa sistem pelarut multi komponen yaitu campuran sesederhana mungkin dan maksimum terdiri atas tiga komponen. Angka banding campuran dinyatakan dalam bagian volume sehingga volume total 100. Pelarut pengembang dapat dikelompokkan kedalam deret eluotropi berdasarkan elusinya dan ditunjukkan pada tabel 2.1.
Komponen yang larut dalam pelarut akan terbawa oleh fasa gerak melewati adsorben dengan kecepatan berbeda-beda untuk tiap komponen perbandingan kecepatan bergerak pada permukaan adsorben dari komponen yang terbawa oleh pelarut, merupakan dasar untuk mengidentifikasi komponen-komponen yang akan dipisahkan. Perbandingan kecepatan ini disingkat Rf (Retardation factor) yaitu jarak yang ditempuh oleh komponen senyawa terlarut (terelusi) dengan jarak yang ditempuh oleh pelarut (pengelusi).
Faktor-faktor yang mempengaruhi harga Rf yaitu :
a.       Ukuran partikel
b.      Derajat keaktifan lapisan adsorben
c.       Kemurnian dan komposisi pelarut
d.      Kejenuhan ruang elusi
e.       Cara penotolan
f.       Ketebalan adsorben
g.      Temperatur
 (Egon stahl, 1985).
2.  Kromatografi Kolom
            Kolom kromatografi dapat berupa  pipa gelas yang dilengkapi dengan kran dan gela penyaring di dalamnya. Ukuran kolom tergantung pada banyaknya zat yang akan dipisahkan. Untuk menahan penyerap yang diletakkan di dalam kolom dapat digunakan gelas wool atau kapas.
Penyerap yang sering digunakan adalah silica gel dan alumina. Untuk memperoleh daya pisah yang baik dipakai petunjuk sebagai berikut :
Berat  fase diam untuk silica gel adalah 40 kali berat contoh sedangkan untuk alumina 70 kali berat contoh. Penyerap yang dibuat bubur dengan suatu pelarut kemudian dituangkan secara perlahan- lahan ke dalam kolom yang perlu dijaga agar selama pengisian pada tabung tidak ada bagian yang kering. Untuk mendapatkan permukaan yang rata maka permukaan penyerap dalam kolom dapat diberi kertas saring.
Larutan cuplikan dimasukkan ke dalam kolom dengan menggunakan pipet kecil yang ujungnya ditempelkan pada dinding kolom dan terletak sedikit di atas dari permukaan penyerap, selama zat cair lepas dari pipet, ujung pipet digerakkan berkeliling dalam kolom dan jangan sampai ujungnya menyentuh penyerap. Bila semua cuplikan telah diserap dalam kolom, maka bagian atasnya dapat diisi dengan pelarut dan permukaan pelarut dapat menggunakan corong pisah. Elusi dengan larutan pengembang sehingga  komponen- komponen yang dipisahkan mengalir turun dari kolom dengan kecepatan yang berbeda- beda dan keluar bersama- sama dengan eluen yang ditampung dalam wadah ( Sastrohamidjojo, 1985 ).
C.    Tinjauan Umum Alkaloid
1.      Uraian Umum Alkaloid
Alkaloid adalah suatu golongan senyawa organik yang terbanyak ditemukan di alam. Hampir seluruh senyawa alkaloda berasal dari tumbuh-tumbuhan dan tersebar luar dalam berbagai jenis tumbuhan. Semua jenis alkaloida mengandung paling sedikit satu atom nitrogen yang biasanya bersifat basa dan dalam sebagian besar atom nitrogen ini merupakan bagian dari cincin heterosiklik. Hampir semua alkaloida yang ditemukan di alam mempunyai keaktifan biologis tertentu, ada yang sangat beracun tapi ada pula yang sangat berguna dalam pengobatan. Misalnya kuinin, morfin, dan stiknin adalah alkaloida yang terkenal dan mempunyai efek sifiologis dan psikologis. Alkaloida dapat ditemukan seperti biji, daun, ranting dan kulit batang. Alkaloida umumnya ditemukan dalam kadar yang kecil dan harus dipisahkan dari campuran senyawa yang rumit yang berasal dari jaringan tumbuhan.
2.      Penamaan dan Sifat-sifat Fisika dan Kimia
1).  Penamaan
Karena begitu banyak tipe alkaloid maka tidak mungkin diadakan penyatuan penamaan. Bahkan dalam satu kelompok alkaloid, sering terjadi tidak adanya sistem penamaan dan penomeran yang konsisten. Suatu contoh, adalah alkaloid indol, dimana banyak terdapat kerangka yang berbeda. Kebanyakan dalam bidang ini sistem penomeran yang digunakan didasarkan pada biogenesis, namun sayang Chemical Abstract mempunyai sistem penomeran yang sangat membingungkan untuk setiap kerangka individu.
Kharaktersistik yang lazim penamaan alkaloid adalah bahwa nama berakhiran ”ina”. Disamping itu alkaloid, seperti bahan alam yang lain, diberi nama yang dikenal ”trivial” (yaitu non-sistematik). Mereka mungkin diturunkan dari nama genus (contoh atropin dari Atropa belladonna) ; dari nama species (contoh, kokain dari Erythroxyloncoca) ; dari nama yang lazim untuk obat-obatan/aktifitas fisiologik (contoh, emetin, emetat), atau dari nama pakar kimia alkaloid yang terkenal/penemunya (contoh, pelletierina).
2). Sifat-Sifat Fisika
Umumnya mempunyai 1 atom N meskipun ada beberapa yang memiliki lebih dari 1 atom N seperti pada Ergotamin yang memiliki 5 atom N. Atom N ini dapat berupa amin primer, sekunder maupun tertier yang semuanya bersifat basa (tingkat kebasaannya tergantung dari struktur molekul dan gugus fungsionalnya). Kebanyakan alkaloid yang telah diisolasi berupa padatan kristal tidak larut dengan titik lebur yang tertentu atau mempunyai kisaran dekomposisi. Sedikit alkaloid yang berbentuk amorf dan beberapa seperti; nikotin dan koniin berupa cairan.
Kebanyakan alkaloid tidak berwarna, tetapi beberapa senyawa yang kompleks, species aromatik berwarna (contoh berberin berwarna kuning dan betanin berwarna merah). Pada umumnya, basa bebas alkaloid hanya larut dalam pelarut organik, meskipun beberapa pseudoalkalod dan protoalkaloid larut dalam air. Garam alkaloid dan alkaloid quartener sangat larut dalam air.
3). Sifat-Sifat Kimia
Kebanyakan alkaloid bersifat basa. Sifat tersebut tergantung pada adanya pasangan elektron pada nitrogen.Jika gugus fungsional yang berdekatan dengan nitrogen bersifat melepaskan elektron, sebagai contoh; gugus alkil, maka ketersediaan elektron pada nitrogen naik dan senyawa lebih bersifat basa. Hingga trietilamin lebih basa daripada dietilamin dan senyawa dietilamin lebih basa daripada etilamin. Sebaliknya, bila gugus fungsional yang berdekatan bersifat menarik elektron (contoh; gugus karbonil), maka ketersediaan pasangan elektron berkurang dan pengaruh yang ditimbulkan alkaloid dapat bersifat netral atau bahkan sedikit asam. Contoh ; senyawa yang mengandung gugus amida.
Kebasaan alkaloid menyebabkan senyawa tersebut sangat mudah mengalami dekomposisi, terutama oleh panas dan sinar dengan adanya oksigen. Hasil dari reaksi ini sering berupa N-oksida. Dekomposisi alkaloid selama atau setelah isolasi dapat menimbulkan berbagai persoalan jika penyimpanan berlangsung dalam waktu yang lama. Pembentukan garam dengan senyawa organik (tartarat, sitrat) atau anorganik (asam hidroklorida atau sulfat) sering mencegah dekomposisi. Itulah sebabnya dalam perdagangan alkaloid lazim berada dalam bentuk garamnya.
3.      Klasifikasi Alkaloid
Alkaloida tidak memiliki tatanama sistematik, oleh karena itu, senyawa alkaloida dinyatakan dengan nama trivial ini berakhiran –in yang mencirikan alkaloida. Pada bagian yang memaparkan sejarah alkaloid, jelas kiranya bahwa alkaloid sebagai kelompok senyawa, tidak diperoleh definisi tunggal tentang alkaloid. Sistem klasifikasi yang diterima, menurut Hegnauer, alkaloid dikelompokkan sebagai (a) Alkaloid sesungguhnya, (b) Protoalkaloid, dan (c) Pseudoalkaloid. Meskipun terdapat beberapa perkecualian.
(a)    Alkaloid Sesungguhnya
Alkaloid sesungguhnya adalah racun, senyawa tersebut menunjukkan aktivitas phisiologi yang luas, hampir tanpa terkecuali bersifat basa; lazim mengandung Nitrogen dalam cincin heterosiklik ; diturunkan dari asam amino ; biasanya terdapat “aturan” tersebut adalah kolkhisin dan asam aristolokhat yang bersifat bukan basa dan tidak memiliki cincin heterosiklik dan alkaloid quartener, yang bersifat agak asam daripada bersifat basa.
(b)   Protoalkaloid
Protoalkaloid merupakan amin yang relatif sederhana dimana nitrogen dan asam amino tidak terdapat dalam cincin heterosiklik. Protoalkaloid diperoleh berdasarkan biosintesis dari asam amino yang bersifat basa. Pengertian ”amin biologis” sering digunakan untuk kelompok ini. Contoh, adalah meskalin, ephedin dan N,N-dimetiltriptamin.
(c)    Pseudoalkaloid
Pseudoalkaloid tidak diturunkan dari prekursor asam amino. Senyawa biasanya bersifat basa. Ada dua seri alkaloid yang penting dalam khas ini, yaitu alkaloid steroidal (contoh: konessin dan purin (kaffein))
Berdasarkan atom nitrogennya, alkaloid dibedakan atas:
a.       Alkaloid dengan atom nitrogen heterosiklik
Dimana atom nitrogen terletak pada cincin karbonnya. Yang termasuk pada golongan ini adalah :
1.      Alkaloid Piridin-Piperidin
Mempunyai satu cincin karbon mengandung 1 atom nitrogen. Yang termasuk dalam kelas ini adalah : Conium maculatum dari famili Apiaceae dan Nicotiana tabacum dari famili Solanaceae.
2.      Alkaloid Tropan
 Mengandung satu atom nitrogen dengan gugus metilnya (N-CH3). Alkaloid ini dapat mempengaruhi sistem saraf pusat termasuk yang ada pada otak maupun sun-sum tulang belakang. Yang termasuk dalam kelas ini adalah Atropa belladona yang digunakan sebagai tetes mata untuk melebarkan pupil mata, berasal dari famili Solanaceae, Hyoscyamus niger, Dubuisia hopwoodii, Datura dan Brugmansia spp, Mandragora officinarum, Alkaloid Kokain dari Erythroxylum coca (Famili Erythroxylaceae)
3.      Alkaloid Quinolin
Mempunyai 2 cincin karbon dengan 1 atom nitrogen. Yang termasuk disini adalah ; Cinchona ledgeriana dari famili Rubiaceae, alkaloid quinin yang toxic terhadap Plasmodium vivax
4.      Alkaloid Isoquinolin
Mempunyai 2 cincin karbon mengandung 1 atom nitrogen. Banyak ditemukan pada famili Fabaceae termasuk Lupines (Lupinus spp), Spartium junceum, Cytisus scoparius dan Sophora secondiflora
5.      Alkaloid Indol
Mempunyai 2 cincin karbon dengan 1 cincin indol . Ditemukan pada alkaloid ergine dan psilocybin, alkaloid reserpin dari Rauvolfia serpentine, alkaloid vinblastin dan vinkristin dari Catharanthus roseus famili Apocynaceae yang sangat efektif pada pengobatan kemoterapy untuk penyakit Leukimia dan Hodgkin‟s.
6.      Alkaloid Imidazol
Berupa cincin karbon mengandung 2 atom nitrogen. Alkaloid ini ditemukan pada famili Rutaceae. Contohnya; Jaborandi paragua.
7.      Alkaloid Lupinan
Mempunyai 2 cincin karbon dengan 1 atom N, alkaloid ini ditemukan pada Lunpinus luteus (fam : Leguminocaea).
8.      Alkaloid Steroid
Mengandung 2 cincin karbon dengan 1 atom nitrogen dan 1 rangka steroid yang mengandung 4 cincin karbon. Banyak ditemukan pada famili Solanaceae, Zigadenus venenosus.
9.      Alkaloid Amina
Golongan ini tidak mengandung N heterosiklik. Banyak yang merupakan tutrunan sederhana dari feniletilamin dan senyawa-senyawa turunan dari asam amino fenilalanin atau tirosin, alkaloid ini ditemukan pada tumbuhan Ephedra sinica (fam Gnetaceae)
10.  Alkaloid Purin
Mempunyai 2 cincin karbon dengan 4 atom nitrogen. Banyak ditemukan pada kopi (Coffea arabica) famili Rubiaceae, dan Teh (Camellia sinensis) dari famili Theaceae, Ilex paraguaricasis dari famili Aquifoliaceae, Paullunia cupana dari famili Sapindaceae, Cola nitida dari famili Sterculiaceae dan Theobroma cacao.
b. Alkaloid tanpa atom nitrogen yang heterosilik
Dimana, atom nitrogen tidak terletak pada cincin karbon tetapi pada salah satu atom karbon pada rantai samping.
1.      Alkaloid Efedrin (alkaloid amine)
Mengandung 1 atau lebih cincin karbon dengan atom Nitrogen pada salah satu atom karbon pada rantai samping. Termasuk Mescalin dari Lophophora williamsii, Trichocereus pachanoi, Sophora secundiflora, Agave americana, Agave atrovirens, Ephedra sinica, Cholchicum autumnale.
2.         Alkaloid Capsaicin
Dari Chile peppers, genus Capsicum. Yaitu ; Capsicum pubescens, Capsicum baccatum, Capsicum annuum, Capsicum frutescens, Capsicum chinense.
D.    Identifikasi Alkaloid
Dua metode yang paling banyak digunakan untuk menyeleksi tanaman yang mengandung alkaloid. Prosedur Wall, meliputi ekstraksi sekitar 20 gram bahan tanaman kering yang direfluks dengan 80% etanol. Setelah dingin dan disaring, residu dicuci dengan 80% etanol dan kumpulan filtrat diuapkan. Residu yang tertinggal dilarutkan dalam air, disaring, diasamkan dengan asam klorida 1% dan alkaloid diendapkan baik dengan pereaksi Mayer atau dengan Siklotungstat. Bila hasil tes positif, maka konfirmasi tes dilakukan dengan cara larutan yang bersifat asam dibasakan, alkaloid diekstrak kembali ke dalam larutan asam. Jika larutan asam ini menghasilkan endapan dengan pereaksi tersebut di atas, ini berarti tanaman mengandung alkaloid. Fasa basa berair juga harus diteliti untuk menentukan adanya alkaloid quartener.
Prosedur Kiang-Douglas agak berbeda terhadap garam alkaloid yang terdapat dalam tanaman (lazimnya sitrat, tartrat atau laktat). Bahan tanaman kering pertama-tama diubah menjadi basa bebas dengan larutan encer amonia. Hasil yang diperoleh kemudian diekstrak dengan kloroform, ekstrak dipekatkan dan alkaloid diubah menjadi hidrokloridanya dengan cara menambahkan asam klorida 2 N. Filtrat larutan berair kemudian diuji terhadap alkaloidnya dengan menambah pereaksi mayer,Dragendorff atau Bauchardat. Perkiraan kandungan alkaloid yang potensial dapat diperoleh dengan menggunakan larutan encer standar alkaloid khusus seperti brusin.
Beberapa pereaksi pengendapan digunakan untuk memisahlkan jenis alkaloid. Pereaksi sering didasarkan pada kesanggupan alkaloid untuk bergabung dengan logam yang memiliki berat atom tinggi seperti merkuri, bismuth, tungsen, atau jood. Pereaksi mayer mengandung kalium jodida dan merkuri klorida dan pereaksi Dragendorff mengandung bismut nitrat dan merkuri klorida dalam nitrit berair. Pereaksi Bouchardat mirip dengan pereaksi Wagner dan mengandung kalium jodida dan jood. Pereaksi asam silikotungstat menandung kompleks silikon dioksida dan tungsten trioksida. Berbagai pereaksi tersebut menunjukkan perbedaan yang besar dalam halsensitivitas terhadap gugus alkaloid yang berbeda. Ditilik dari popularitasnya, formulasi mayer kurang sensitif dibandingkan pereaksi wagner atau dragendorff.
Kromatografi dengan penyerap yang cocok merupakan metode yang lazim untuk memisahkan alkaloid murni dan campuran yang kotor. Seperti halnya pemisahan dengan kolom terhadap bahan alam selalu dipantau dengan kromatografi lapis tipis. Untuk mendeteksi alkaloid secara kromatografi digunakan sejumlah pereaksi. Pereaksi yang sangat umum adalah pereaksi Dragendorff, yang akan memberikan noda berwarna jingga untuk senyawa alkaloid. Namun demikian perlu diperhatikan bahwa beberapa sistem tak jenuh, terutama koumarin dan α-piron, dapat juga memberikan noda yang berwarna jingga dengan pereaksi tersebut. Pereaksi umum lain tetapi kurang digunakan adalah asam fosfomolibdat, jodoplatinat, uap jood, dan antimon (III) klorida.
Kebanyakan alkaloid bereaksi dengan pereaksi-pereaksi tersebut tanpa membedakan kelompok alkaloid. Sejumlah pereaksi khusus tersedia untuk menentukan atau mendeteksi jenis alkaloid khusus. Pereaksi Ehrlich (p-dimetilaminobenzaldehide yang diasamkan) memberikan warna yang sangat karakteristik biru atau abu-abu hijau dengan alkaloid ergot. Perteaksi serium amonium sulfat (CAS) berasam (asam sulfat atau fosfat) memberikan warna yang berbeda dengan berbagai alkaloid indol. Warna tergantung pada kromofor ultraungu alkaloid.
Campuran feriklorida dan asam perklorat digunakan untuk mendeteksi alkloid Rauvolfia. Alkaloid Cinchona memberikan warna jelas biru fluoresen pada sinar ultra ungu (UV) setelah direaksikan dengan asam format dan fenilalkilamin dapat terlihat dengan ninhidrin. Glikosida steroidal sering dideteksi dengan penyemprotan vanilin-asam fosfat.
Pereaksi Oberlin-Zeisel, larutan feri klorida 1-5% dalam asam klorida 0,5 N, sensitif terutama pada inti tripolon alkaloid kolkisin dan sejumlah kecil 1 μg dapat terdeteksi.
  


BAB  III
METODE PENELITIAN

A.    Jenis Dan Variabel Penelitian
Pada penelitian ini proses isolasi sebagai variabel bebas, dan senyawa metabolit sekunder sebagai variabel terikat.

B.     Objek Penelitian
Objek penelitian adalah daun iler (Coleus atropurpureus (L) Benth)
C.    Desain Penelitian
            X                                                               Y
    Dimana        : X adalah senyawa metabolit sekunder
                          Y adalah proses isolasi
D.    Defenisi Operasional Variabel
1.      Isolasi adalah proses pengikatan suatu senyawa dari bahan alam dengan menggunakan pelarut yang sesuai
2.      Senyawa metabolit sekunder adalah senyawa kimia yang terdapat dalam tumbuhan hasil metabolisme sekunder
E.     Pengumpulan Data dan Proaedur Penelitian
1.      Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian terdiri dari Seperangkat alat Soxhletasi, seperangkat alat Refluks, seperangkat alat Kromatografi Kolom, Seperangkat alat Kromatografi Lapis Tipis, seperangkat Corong buchner, Gelas piala  ( 250ml, 500ml, dan 1000ml ), Erlenmeyer ( 250ml, 500ml ), Labu ukur (250ml, 500ml dan 1000ml ), batang pengaduk, tabung reaksi, corong pisah, corong biasa, neraca analitik, Eksikator, Termometer 360 0C, blender, pisau dan lain-lain.
2.      Bahan
Bahan-bahan yang digunakan antara lain daun iler, beberapa pelarut organik seperti etanol, kloroform, petroleum eter, etil asetat, asam tartat. Silika gel 60GF254, silika gel G 60 (70-230 mesh),  plat KLT, Kertas saring, dan aquadest serta beberapa peraksi seperti Bismut nitrat, merkuri klorida, asam sulfat, ammonium hidroksida
3.      Prosedur Kerja
Isolasi alkaloid pada daun iler (Coleus atropurpureus (L) Benth) dalam penelitian ini meliputi beberapa tahap sebagai berikut :
a.       Perlakuan awal
Daun iler segar yang telah diambil dari batangnya, dipisahkan dari tanaman yang kurang baik, disortir, dipotong kecil-kecil kemudian dibelender sampai halus dan dikeringkan tanpa terkena sinar matahari secara langsung.
b.      Metode Ekstraksi
Daun iler yang telah halus ditimbang sebanyak 200,setelah itu dimaserasi dengan petroleum eter 1 x 24 jam, kemudian residunya dimaserasi dengan asam asetat 10 % dalam etanol 96% selama 3 x 24 jam dengan perbandingan 1 : 3. Ekstrak yang diperoleh dipekatkan dengan evaporator sampai kira-kira tinggal seperempat dari volume awal. Ekstrak etanol pekat yang diperoleh ditambahkan larutan ammonium hidroksida 10 % dengan cara meneteskan sedikit demi sedikit, untuk mengendapkan alkaloid. Endapan yang diperoleh dicuci dengan ammonium hidroksida 10 % dan direkristakisasi menggunakan kloroform.
a.       Identifikasi
1).  Uji kelarutan
  Ekstrak kering yang diperoleh diuji sifat kelarutan dalam pelarut kloroform, etanol dan ammonium hidroksida, positif alkaloid jika larut baik dalam etanol , larut dalam kloroform setelah didiamkan beberapa saat dan tidak larut dalam ammonium hidroksida.
   2).  Uji reaksi warna
Ekstrak kering yang telah dilarutkan, diuji dengan pereaksi warna meyer dan positif alkaloid jika ditambahkan pereaksi meyer, berubah menjadi warna kuning jika ditambahkan dengan pereaksi Dragendroff berubah menjadi coklat.
   3).   Kromatografi lapis tipis
Plat kromatografi lapis tipis yang dibuat dari aluminium berlapis silica gel F 254 ukuran 10 x 2,5 cm, ekstrak ditotolkan dengan menggunakan pipa kapiler, kemudian dikeringkan. Setelah itu diolesi dalam bejana serba kaca . Larutan pengembang yang digunakan adalah kloroform : etanol dengan perbandingan 2 : 30. Setelah pengembang yang digunakan sampai pada batas yang ditentukan , plat kromatografi diangkat dari bejana dan keringkan. Hasil kromatografi dapat diidentifikasi berdasarkan asam sulfat yang ada setelah disemprot dengan pereaksi Dragondroff kemudian asam sulfat dalam etanol 96% akan tampak warna orange atau coklat jika ia mengandung alkaloid.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, dkk, 1995. Obat Asli Indonesia Khusus Dari Tumbuhan-Tumbuhan Yang Terdapat Di Indonesia. Dian Rakyat. Bandung.

Egon stahl. 1985. Analisis Obat Secara Kromatografi dan Mikroskopi. Bandung : ITB Bandung.
Mahendra, Bruri. 2006. Atasi Stroke Dengan Tanaman Obat. Jakarta : Penerbit Swadaya.
   
Sastrohamidjojo,H.1985. Kromatografi. Yogyakarta : Penerbit Liberty.

Sawal. 1997. Teknik Kromatografi Yntuk Analisis Bahan Makanan. Yogyakarta :           Penerbit ANDI Yogyakarta.

Thomas, A. 1992. Tanaman Obat Tradisional 2. Yogyakarta : Penerbit Kansius.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar