Rabu, 25 Januari 2012

P E W A R N A


Warna adalah spektrum tertentu yang terdapat di dalam suatu cahaya sempurna (berwarna putih). Identitas suatu warna ditentukan panjang gelombang cahaya tersebut. Sebagai contoh warna biru memiliki panjang gelombang 460 nanometer. Panjang gelombang warna yang masih bisa ditangkap mata manusia atau daerah tampak spektrum dari radiasi elektromagnetik berkisar antara 380-780 nanometer.  Radiasi yang tersebar secara merata akan tampak sebagai cahaya putih dan yang akan terurai dalam warna – warna spektrum bias dengan adanya penyaringan oleh prisma atau kisi – kisi pelontaran (difraction grating) yang dipersepsikan sebagai sinar cosmik/foton (lembayung, indigo, biru, hijau, kuning, jingga, merah).

Pada tahun 1876 Witt menyatakan bahwa molekul zat warna merupakan gabungan dari zat organik yang tidak jenuh, kromofor sebagai pembawa warna dan auksokrom sebagai pengikat antara warna dengan serat. Secara lebih luas  zat warna tersusun dari hidrokarbon tak jenuh, Chromogen, Auxocrome dan  zat aditif (migration, levelling, wetting agent, dsb).
1.      Chromogen adalah senyawa aromatik yang berisi Chromopores (Yunani :chroma “warna”; phoros, “mengemban”) yaitu gugus tak jenuh yang dapat menjalani transisi p ® p dan n ® p (teori eksitasi transisi elektron). Khromofor merupakan zat pemberi warna yang berasal daari radikal kimia, seperti ; Kelompok nitroso : -NO, Kelompok nitro : -NO2, Kelompok azo : -N=N, Kelompok ethyline : >C=C<, Kelompok carbonyl : >C=O, Kelompok carbon – nitrogen : >C=NH dan –CH=N, Kelompok belerang : >C=S dan ->C-S-S-C<. Macam – macam zat warna dapat diperoleh dari penggabungan radikal kimia tersebut dengan senyawa kimia lain. Sebagai contoh kuning jeruk (orange) diperoleh dari radikal ethylene yang bergabung dengan senyawa lain membentuk Hydrokarbon  dimethyl fulvene.
2.      Auxochrome, (Yunani ; auxanein, “meningkatkan”) yaitu gugus yang tidak dapat menjalani transisi p ® p tetapi dapat menjalani transisi elektron n. Auksokrom merupakan gugus yang dapat meningkatkan daya kerja khromofor sehingga optimal dalam pengikatan. Auksokrom terdiri dari golongan kation yaitu –NH2, -NH Me, – N Me2 seperti -+NMe2Cl-, golongan anion yaitu SO3H-, -OH, -COOH, seperti –O-; -SO3-, dsb.  Auxochrome juga merupakan radikal yang memudahkan terjadinya pelarutan: -COOH atau –SO3H. dapat juga berupa kelompok pembentuk garam: – NH2 atau –OH. Kebanyakan zat organik berwarna adalah hibrida resonansi dari dua struktur atau lebih.
Bahan pewarna secara sederhana dapat didefinisikan sebagai suatu benda berwarna yang memiliki afinitas kimia terhadap benda yang diwarnainya. Bahan pewarna pada umumnya memiliki bentuk cair dan larut di air. Pada berbagai situasi, proses pewarnaan menggunakan mordant untuk meningkatkan kemampuan menempel bahan pewarna.
Bahan pewarna dan pigmen terlihat berwarna karena mereka menyerap panjang gelombang tertentu dari cahaya. Berlawanan dengan bahan pewarna, pigmen pada umumnya tidak dapat larut, dan tidak memiliki afinitas terhadap substrat.
Bukti arkeologi menunjukkan bahwa, khususnya di India dan Timur Tengah, pewarna telah digunakan selama lebih dari 5000 tahun. Bahan pewarna dapat diperoleh dari hewan, tumbuhan, atau mineral. Pewarna yang diperoleh dari bahan-bahan ini tidak memerlukan proses pengolahan yang rumit. Sampai sejauh ini, sumber utama bahan pewarna adalah tumbuhan, khususnya akar-akaran, beri-berian, kulit kayu, daun, dan kayu. Sebagian dari pewarna ini digunakan dalam skala komersil.
1.      Pewarna organik
Pewarna organik pertama yang dibuat oleh manusia adalah mauveine. Pewarna sintetik ini ditemukan oleh William Henry Perkin pada tahun 1856. Sejak itu, berbagai jenis pewarna sintetik berhasil disintesis. Pewarna sintetik secara cepat menggantikan peran dari pewarna alami sebagai bahan pewarna. Hal ini disebabkan karena biaya produksinya yang lebih murah, jenis warna yang lebih banyak, dan kemampuan pewarnaan yang lebih baik. [1] Pewarna sintetik diklasifikasikan berdasarkan cara penggunaan di proses pewarnaan. Secara umum, pewarna sintetik digolongkan sebagai pewarna asam, pewarna basa, pewarna direct, pewarna mordant, pewarna vat, pewarna reaktif, pewarna disperse, pewarna azo, dan pewarna sulfur. Zat organik tak jenuh umumnya berasal dari senyawa aromatik dan derivatifnya (benzene, toluene, xilena, naftalena, antrasena, dsb.), Fenol dan derivatifnya (fenol, orto/meta/para kresol, dsb.), senyawa mengandung nitrogen (piridina, kinolina, korbazolum, dsb).
2.      Pewarna makanan
Jenis lain penggunaan bahan pewarna adalah sebagai bahan pewarna makanan. Pewarna makanan digolongkan sebagai aditif makanan sehingga diproduksi dengan standar tinggi-tidak seperti pewarna untuk industri. Pewarna makanan dapat berupa pewarna jenis direct, mordant dan vat, dan penggunaannya secara ketat dikontrol hukum. Pewarna makanan dapat juga berasal dari alam.
 
3.      Bahan pewarna penting lainnya
Selain penggolongan yang disebutkan di atas, terdapat pula penggolongan bahan pewarna sebagai berikut:
·       Oksidasi basa, terutama untuk rambut dan bulu
·       Pewarna kulit, untuk bahan kulit
·       Pencerah floresens, untuk serat tekstil dan kertas
·       Pewarna solven, untuk kayu, solven tinta
·       Pewarna karbin, metode pewarnaan yang baru dikembangkan untuk mewarnai berbagai jenis substrat.
4.      Klasifikasi secara kimia
Berdasarkan kromofornya, pewarna dibagi menjadi:
o    Kategori:pewarna diarilmetan, berdasarkan difenil metan
§  Kategori:pewarna safranin, senyawa turunan safranin
o    Indamin
o    Kategori:pewarna indofenol, senyawa turunan indofenol
o    Kategori:pewarna oksazin, senyawa turunan oksazin
o    Pewarna Oksazon, senyawa turunan oksazon
o    Kategori:pewarna tiazin, senyawa turunan tiazin
o    Pewarna fluorin, senyawa turunan fluorin
§  Pewarna pironin
o    Kategori:pewarna fluoron, berdasarkan fluoron
§  Kategori:pewarna rodamin, senyawa turunan rodamin
Berdasarkan cara diperolehnya:
  • Zat warna alam
Zat warna yang berasal dari tumbuh – tumbuhan, misalnya; Nila (indigo): warna biru, kulit batang jeruk: warna kuning, ketapang: warna coklat kehitaman, dan sebagainya. Zat warna dari binatang, misalnya; lendir kerang: warna merah, caro : merah tua, dan sebagainya. Zat warna dari mineral, misalnya; Fe: warna coklat, Mn: warna merah, Cr: warna hitam, dan sebagainya.
  • Zat warna buatan
Suatu zat warna yang dibuat oleh manusia, baik semi sintetik maupun full sintetik, misalnya zat warna asam, basa, direct, naftol, dan sebagainya.
 Selain zat warna dapat digolongkan menurut sumber diperolehnya yaitu zat warna alam dan sintetik, Van Croft membaginya berdasarkan pemakainnya, misalnya :
· Zat warna subtantif yaitu Warna yang langsung dapat mewarnai serat.
· Zat warna reaktif yaitu warna yang memerlukan obat bantu pokok supaya dapat mewarnai serat.
Hennek membagi zat warna menjadi dua bagian menurut warna yang ditimbulkannya yaitu :
· Zat warna monogenetik, apabila memberikan hanya saru warna.
· Zat warna Poligenetik, apabila memberikan beberapa jenis warna.
Tetapi penggolongan yang umum adalah berdasarkan konstitusinya yaitu “Color Index” volume 3, atau berdasarkan bentuk kimia zat warna. Penggolongan lain yang penting pula terutama bagi pencelupan adalah pembagian menurut cara pemakaiannya.
  • Zat warna juga diperoleh dari senyawa anorganik dan dari mineral alam.
 Zat warna yang diperoleh dari senyawa anorganik dan dari mineral alam sering disebut dengan pigment (tahun 1935 mulai dikenal pigmen yang mempunyai kromofor). Beberapa contoh warna pigment yang berasal dari senyawa anorganik dan mineral alam adalah sebagai berikut : Warna putih : Titanium dioksida, Seng oksida, Seng sulfit, Timbal sulfide. Warna merah : Besi oksida, Kadmium merah, Timbal merah, Toners & lak. Warna hitam : Graphite, Carbon black, Lengas lampu, Magnetite black. Warna biru : Ultramine, Cobalt biru, Besi biru, Tembaga Pthalocyanine. Warna kuning : Seng kromat, Ferit kuning, Kadmium liyhopone, Ocher. Warna metalik : Aluminium, Debu seng, Serbuk Tembaga. Sedangkan pigmen dari senyawa organik misalnya ftalosianina, monoazo, diazo, antrakuinon, tioindigo, dan sebagainya.
Salah satu penggunaan pewarna sintetis
Azo sebenarnya mengacu pada senyawa kimia yang menanggung kelompok fungsi RN = N-R ', di mana N adalah Nitrogen; R dan R' bisa berupa aril atau alkil. N = N grup adalah grup Azo.
Di bawah kondisi reduktif, dapat membentuk kelompok azo amina aromatik.
Mengapa Azo beracun ?
Pewarna azo biasanya digunakan sebagai pewarna jelas agen, terutama merah, jeruk, dan kuning. Karena potensi pelepasan amina aromatik, seperti pewarna dan pigmen yang mutagenik, karsinogenik dan kadang-kadang alergi. Azo dyes juga tidak biodegradable dan sulit untuk menghapus dari ekosistem.
Produk yang mungkin mengandung pewarna azo
Semua jenis kulit tekstil dan barang-barang termasuk pakaian, handuk, wig, sepatu, topi, popok, sarung tangan, tas tangan, tempat tidur, dll
Directive Uni Eropa benar-benar meliputi semua barang-barang konsumen dicelup yang sering bersentuhan dengan kulit, termasuk pakaian dan mainan.
Penggunaan Zat pewarna pada industri
Zat kimia toksik dipakai dalam pembuatan serat sintetis. Bahaya keracunan juga dapat muncul saat pewarnaan dan penyelesaian akhir dalam industri tekstil. Dalam pewarnaan dan pencetakan motif, pekerja seringkali terpapar pada zat yang dipakai untuk pewarnaan misalnya berbagai jenis asam seperti asam formik, sulforik, dan asam asetat, pencerah yang mengandung flor, solven organik, dan zat pengawet. Paparan terhadap agen anti-kusut, anti-api, dan sejumlah solven toksik yang digunakan untuk degreasing dan pencetakan motif harus dihadapi oleh pekerja bagian penyelesaian akhir. Oleh karena itu, seseorang harus berhati-hati dalam menggunakan zat ini untuk mencegah kontak langsung zat dengan kulit dan tindakan yang tepat harus dilakukan untuk memastikan agar materi tersebut tidak terlepas ke udara. Penyakit kulit seperti dematitis umumnya ditemukan pada pekerja dibagian pemutihan, pewarnaan, dan finishing. Beberapa zat pewarna dapat menyebabkan kanker kandung kemih. Ekzema krom atau keracunan krom merupakan hazard yang muncul akibat penggunaan kalium  atau natrium bikromat dalam industri tekstil.
Efek pada kesehatan kerja meliputi bissimosis, bronkhitis kronis, kanker kandung kemih, serta  kanker rongga hidung di antara para penenun dalam pabrik tekstil. Efek tersebut dirangkum dalam tabel berikut. Berdasarkann evaluasi menyeluruh, The International For Research On Cancer menyimpulkan bahwa pekerja di pabrik pembuat tekstil menimbulkan paparan yang “kemungkinan karsonogenik bagi manusia”.
Berbagai jenis zat yang ada dalam pabrik tekstil dimana pekerjanya terpapar pada zat tersebut disajikan. Paparan itu dapat terjadi secara bersamaan dengan hazard fisik, misalnya kebisingan, getaran, dan panas. Hanya sedikit data yang ada tentang zat kimia yang digunakan. Tingkat paparan dan zat kimia yang digunakan mungkin berlainan dari satu negara dengan negara lain.
Umumnya seringdilakukan pembuangan udara berdebu yang dikeluarkan dari pabrik tekstil ke atmosfer. Pada pabrik tekstil, resirkulasi dan filtrasi sekarang digunakan tapi tindakan ini mungkin tidak ada di beberapa negara. Emisi organik berbahaya (dari minyak yang ditambahkan selama proses peneringan dan dari pelarutnya) sangat tidak terkontrol dan digunakan dalam pembuatan tekstur, pengaturan panas,  finishing, perwarnaan dan tindakan printing.
Industri pembuatan kain batik, baik skala kecil maupun menengah, dihimbau untuk menggunakan pewarna alami daripada pewarna tekstil sintetis. Limbah hasil pencelupan batik dengan pewarna alami dinilai lebih aman dan tidak menimbulkan dampak pencemaran lingkungan.
“Karena berasal dari alam, dengan sendirinya zat-zat yang terkandung dalam pewarna alami dapat mudah terurai. Berbeda dengan pewarna tekstil sintetis yang sulit terurai di alam,” ujar Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) DIY, Harnowati, Senin (31/3).
Limbah dengan pewarna tekstil sintetis akan mencemari sumber-sumber air warga, baik yang dibuang ke sungai, atau yang dibuang ke tanah karena akan mudah masuk ke sumur. Dampak pencemaran baru terasa setelah beberapa puluh tahun kemudian, terutama bagi kesehatan warga, yakni ancaman kanker atau gangguan pencernaan akibat akumulasi zat-zat berbahaya yang masuk ke dalam tubuh melalui air minum.
Menurut pantauan Bapedalda DIY, tingkat pencemaran air sungai maupun air bawah tanah oleh limbah hasil pencelupan batik masih dalam ambang toleransi. Akan tetapi, pencemaran ini harus diantisipasi sejak awal agar tidak sampai ke tahap mengkhawatirkan seperti yang terjadi di beberapa sentra batik di Jawa Tengah, seperti Solo dan Pekalongan.
Pihak Bapedalda  DIY sendiri sudah menyampaikan himbauan ini dalam setiap kegiatan bimbingan teknis atau pelatihan penerapan teknologi ramah lingkungan bagi pembuat batik sejak lama. Hasilnya, menurut Harnowati, cukup baik. Sudah banyak industri batik yang beralih ke perwarna alami.
Hal ini juga diakui Widodo, pembuat pasta warna batik alami asal Desa Banaran, Galur, Kulon Progo. Menurutnya, permintaan pewarna batik alami dari desainer maupun toko-toko batik di Yogyakarta terus mengalir. “Jenis warna yang paling banyak diminati saat ini adalah biru. Oleh karena itu, kami menyediakan pasta warna biru yang berasal dari olahan daun indigo,” tutur Widodo.
Selain warna biru, terdapat pula pasta dengan warna-warna lain seperti coklat dari hasil rendaman kayu mahoni, coklat kemerahan dari buah enau, atau hijau dan kuning yang berasal dari rendaman aneka dedaunan. Hanya saja, diakui Widodo, jumlah produksi pasta warna alami masih terbatas, karena tidak dibuat secara massal.
Ia melanjutkan, jumlah tenaga pembuat pasta warna alami masih kurang. Ini dikarenakan belum ada regenerasi pembuat pasta di kalangan remaja. Selain itu, kesadaran generasi muda untuk melestarikan pewarna alami juga rendah.
Dengan pesatnya perkembangan industri di Indonesia, akan mengakibatkan timbulnya masalah pencemaran yang semakin serius. Pencemaran tersebut tidak hanya merusak lingkungan, tetapi dapat berakibat fatal bagi mahluk hidup terutama pada manusia. Senyawa azo, adalah zat warna yang digunakan untuk pewarna tekstil yang dapat mencemari perairan. Zat warna dari limbah tekstil bila dibuang ke perairan dapat menutupi permukaan badan air sehingga menghalangi sinar matahari untuk masuk ke dalam perairan. Berkurangnya sinar matahari yang masuk ke perairan menyebabkan terhambatnya proses fotosintesis oleh tumbuhan yang ada diperairan. Hal ini akan menyebabkan kandungan oksigen di dalam air menurun dan pada akhirnya menyebabkan kematian mahluk hidup yang ada di perairan tersebut. Selain itu, badan air yang tercemar oleh limbah tekstil juga sangat berbahaya bila digunakan oleh manusia untuk kebutuhan sehari-hari. Hal ini dikarenakan beberapa senyawa kimia dan limbah tekstil mempunyai sifat yang toksik bagi mahluk hidup yang dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti kanker dan tidak berfungsinya organ-organ tubuh bahkan dapat menyebabkan kematian.
Di samping mempunyai sifat yang berbahaya bagi mahluk hidup terutama bagi manusia, pencemaran limbah tekstil juga dapat mengurangi nilai estetika badan air, badan air (sungai atau danau) menjadi tidak nyaman untuk dipandang karena aimya berwarna bahkan mungkin berwarna gelap atau hitam pekat. Nilai estetika suatu badan air juga menurun dengan timbulnya bau yang tidak sedap seperti bau amoniak dan asam sulfida hasil penguraian limbah oleh bakteri secara anaerob karena badan air mempunyai kandungan oksigen yang sangat minim. Penurunan atau hilangnya nilai estetika suatu badan air akan menurunkan nilai ekonomis badan air, dan tentunya akan merugikan bagi masyarakat yang tinggal disekitar badan air tersebut.
Senyawa-senyawa kimia yang umumnya ada di dalam air limbah industri tekstil adalah senyawa organik. Senyawa organik ini umumnya adalah senyawa azo yaitu zat warna yang digunakan pada pencelupan dan pewarnaan tekstil. Kadar senyawa organik yang ada dalam suatu perairan dapat diukur dengan parameter Chemical Oxygen Demand (COD) atau dengan parameter Biochemical Oxygen Demand (BOD). Sedangkan untuk melihat kepekatan wama maka dapat dilakukan pengukuran intensitas warna.
Fakta daerah-daerah yang tercemar
Pewarna tekstil
Limbah terlihat di sekitar Dusun Bacem, Desa Langenharjo, Kecematan Seregan, Surakarta, hingga hilir. Limbah bahan pewarna tekstil mulai mencamari sungai di sekitar  Dusun Bacem. Industri peternakan juga membuang limbah ke sungai secara mencolok.
Selama perjalanan, kali pertama yang airnya tampak berwarna cokelat kehitaman dan bermuara ke Be gawan Solo adalah Kali Premulung (dikenal juga sebagai Kali Wingko). Limbah itu berasal dari industry rumah tangga pengecatan batik di Laweyan., Surakarta. Selain mencemari kali, limbah itu juga mencemari udara karena menebarkan bau tak sedap.
Kali Pepe yang bermuara lebih ke hilir Bengawa Solo, tepatnya di Kampung Sewu, Kelurahan Sewu, Kecematan Jabres, Surakarta, mengalirkan air berwarna ungu. Sugino (59), warga setempat, menjelaskan, limbah itu berasal, dari industry pengecatan dan pencetakan batik di Pasar Kliwon, Semanggi, Surakarta. Pemandangan serupa terlihat di beberapa kali setelahnya yang bermuara ke Bengawan Solo.
Hli lingkungan dari Universitas Sebelas Maret Surakarta, Sulastoro, yang turut serta dalam ekspedisi, menjelaskan, limbah industri batik pada umumnya mengandung zat beracun, seperti Na, Cd, dan Cr.
Sejumlah tempat di sisi bengawan Solo sejak Surakarta hingga kabupaten Karanganyar, tim juga menyaksikan banyak ikan sapu-sapu (suckhermouth) yang mati. Ikan jenis itu biasanya bertahan pada air keruh dan kotor. Sebaliknya, ikan nila dan bader yang banyak ditangkali masyarakat di bagiab hulu tidak lagi ditemukan. Sulastoro menjelaskan, kemungkinan besar kepekatan limbah sudah melampaui batas  toleransi dan daya tahan ikan sapu-sapu.
Sugeng, warga desa Jatran, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen, mengatakan, di aliran Bengawan Solo di dekat pemukiman tidak ada ikan selain ikan sapu-sapu. Sepengetahuannya, hal itu sudah berlangsung serlama dua tahun terakhir. Dalam sehari, ketika air surut, Sugeng dapat menangkap 10-20 ikan sapu-sapu.
Logam berat
Seperti Sulastoro, pengajar Fakultas MIPA UNS, Retno Rosariastuti, juga mengatakkan, banyaknya populasi ikan sapu-sapu serta tiadanya ikan jenis lain menunjukkan penurunan kualitas air sungai. “Ikan menunjukkan kualitas air sungai Bengawan Solo sekitar Sukoharjo, Surakarta, dan Sragen sudah tercemas berat,” ujarnya.
Berdasarkan penelitian pada akhir tahun 2006, lanjut Retno, air sungai bengawan Solo di sekitar Sukoharjo hingga Sragen sudah tercemar logam berat yang melawati ambang batas, seperti Chrom dan cadmium. Perjalanan tim ekspedisi berakhir di Dusun Nglombo, desa katelan, Kecamatan Tangen, Sragen.

Dampak Pencemaran Terhadap Lingkungan

Pencemaran lingkungan berakibat terhadap kesehatan manusia, tata kehidupan, pertumbuhan flora dan fauna yang berada dalam jangkauan pencemaran. Gejala pencemaran dapat terlihat pada jangka waktu singkat maupun panjang, yaitu pada tingkah laku dan pertumbuhan. Pencemaran dalam waktu relatif singkat, terjadi seminggu sampai dengan setahun sedangkan pencemaran dalam jangka panjang terjadi setelah masa 20 tahun atau lebih.
Gejala pencemaran yang terjadi dalam waktu singkat dapat diatasi dengan melihat sumber pencemaran lalu mengendalikannya. Tanda-tanda pencemaran ini gampang terlihat pada komponen lingkungan yang terkena pencemaran. Berbeda halnya dengan pencemaran yang terjadi dalam waktu yang cukup lama. Bahan pencemar sedikit demi sedikit berakumulasi.
Dampak pencemaran semula tidak begitu kelihatan. Namun setelah menjalani waktu yang relatif panjang dampak pencemaran kelihatan nyata dengan berbagai akibat yang ditimbulkan. Unsur-unsur lingkungan,mengalami perubahan kehidupan habitat. Tanaman yang semula hidup cukup subur menjadi gersang dan digantikan dengan tanaman lain. Jenis binatang tertentu yang semula berkembang secara wajar beberapa tahun kemudian menjadi langka, karena mati atau mencari tempat lain.
Kondisi kesehatan manusia juga menunjukkan perubahan; misalnya, timbul penyakit baru yang sebelumnya tidak ada.Kondisi air, mikroorganisme, unsur hara dan nilai estetika mengalami perubahan yang cukup menyedihkan.
Bahan pencemar yang terdapat dalam limbah industri ternyata telah memberikan dampak serius mengancam satu atau lebih unsur lingkungan: Jangkauan pencemar dalam jangka pendek maupun panjang tergantung pada sifat limbah,jenis, volume limbah, frekuensinya dan lamanya limbah berperan.
Eutrofikasi adalah masalah lingkungan hidup yang mengakibatkan kerusakan ekosistem perairan khususnya di air tawar. Hal tersebut disebabkan oleh limbah fosfat (PO3-), dimana fosfat tersebut dihasilkan oleh limbah rumah tangga seperti detergen, selain itu limbah tersebut juga dapat dihasilkan dari limbah peternakan, limbah industri, dan berasal dari pertanian.
Pada dasarnya Eutrofikasi adalah pencemaran terhadap air yang terjadi dikarenakan terakumulasinya nutrient yang berlebihan didalam ekosistem air. Air dikatakan eutrofik jika konsentrasi total phosphorus (TP) dalam air berada dalam rentang 35-100 µg/L. eutrofikasi merupakan sebuah proses alamiah di mana perairan yang terkena dampaknya mengalami penuaan secara bertahap dan menjadi lebih produktif bagi tumbuhnya biomassa. Diperlukan proses ribuan tahun untuk sampai pada kondisi eutrofik. Proses alamiah ini, oleh manusia dengan segala aktivitas modernnya, secara tidak disadari dipercepat menjadi dalam hitungan beberapa dekade atau bahkan beberapa tahun saja. Maka tidaklah mengherankan jika eutrofikasi menjadi masalah di hampir ribuan danau di muka Bumi, sebagaimana dikenal lewat fenomena alga bloom.
Kondisi eutrofik sangat memungkinkan alga, tumbuhan air berukuran mikro, untuk tumbuh berkembang biak dengan pesat (blooming) akibat ketersediaan fosfat yang berlebihan serta kondisi lain yang memadai. Hal ini bisa dikenali dengan warna air yang menjadi kehijauan, berbau tak sedap, dan kekeruhannya yang menjadi semakin meningkat. Banyaknya eceng gondok yang bertebaran di rawa-rawa dan danau-danau juga disebabkan fosfat yang sangat berlebihan ini. Akibatnya, kualitas air di banyak ekosistem air menjadi sangat menurun. Rendahnya konsentrasi oksigen terlarut, bahkan sampai batas nol, menyebabkan makhluk hidup air seperti ikan dan spesies lainnya tidak bisa tumbuh dengan baik sehingga akhirnya mati. Hilangnya ikan dan hewan lainnya dalam mata rantai ekosistem air menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem air. Permasalahan lainnya, cyanobacteria (blue-green algae) diketahui mengandung toksin sehingga membawa risiko kesehatan bagi manusia dan hewan. Algal bloom juga menyebabkan hilangnya nilai konservasi, estetika, rekreasional, dan pariwisata sehingga dibutuhkan biaya sosial dan ekonomi yang tidak sedikit untuk mengatasinya. Problem eutrofikasi baru disadari pada dekade awal abad ke-20 saat alga banyak tumbuh di danau-danau dan ekosistem air lainnya. Problem ini disinyalir akibat langsung dari aliran limbah domestik. Hingga saat itu belum diketahui secara pasti unsur kimiawi yang sesungguhnya berperan besar dalam munculnya eutrofikasi ini. Melalui penelitian jangka panjang pada berbagai danau kecil dan besar, para peneliti akhirnya bisa menyimpulkan bahwa fosfor merupakan elemen kunci di antara nutrient utama tanaman (karbon (C), nitrogen (N), dan fosfor (P)) di dalam proses eutrofikasi. Sebuah percobaan berskala besar yang pernah dilakukan pada tahun 1968 terhadap Lake Erie (ELA Lake 226) di Amerika Serikat membuktikan bahwa bagian danau yang hanya ditambahkan karbon dan nitrogen tidak mengalami fenomena algal bloom selama delapan tahun pengamatan. Sebaliknya, bagian danau lainnya yang ditambahkan fosfor (dalam bentuk senyawa fosfat) di samping karbon dan nitrogen-terbukti nyata mengalami algal bloom. Menyadari bahwa senyawa fosfatlah yang menjadi penyebab terjadinya eutrofikasi, maka perhatian para saintis dan kelompok masyarakat pencinta lingkungan hidup semakin meningkat terhadap permasalahan ini. Ada kelompok yang condong memilih cara-cara penanggulangan melalui pengolahan limbah cair yang mengandung fosfat, seperti detergen dan limbah manusia, ada juga kelompok yang secara tegas melarang keberadaan fosfor dalam detergen. Program miliaran dollar pernah dicanangkan lewat institusi St Lawrence Great Lakes Basin di AS untuk mengontrol keberadaan fosfat dalam ekosistem air. Sebagai implementasinya, lahirlah peraturan perundangan yang mengatur pembatasan penggunaan fosfat, pembuangan limbah fosfat dari rumah tangga dan permukiman. Upaya untuk menyubstitusi pemakaian fosfat dalam detergen juga menjadi bagian dari program tersebut.
Penanganan eutrofikasi : Eutrofikasi merupakan contoh kasus dari problem yang menuntut pendekatan lintas disiplin ilmu dan lintas sektoral. Ada beberapa faktor yang menyebabkan penanggulangan terhadap problem ini sulit membuahkan hasil yang memuaskan. Faktor-faktor tersebut adalah aktivitas peternakan yang intensif dan hemat lahan, konsumsi bahan kimiawi yang mengandung unsur fosfat yang berlebihan, pertumbuhan penduduk Bumi yang semakin cepat, urbanisasi yang semakin tinggi, dan lepasnya senyawa kimia fosfat yang telah lama terakumulasi dalam sedimen menuju badan air.
Lalu apa solusi yang mungkin diambil? Menurut Forsberg, yang utama adalah dibutuhkan kebijakan yang kuat untuk mengontrol pertumbuhan penduduk (birth control). Karena apa? Karena sejalan dengan populasi warga Bumi yang terus meningkat, berarti akan meningkat pula kontribusi bagi lepasnya fosfat ke lingkungan air dari sumber-sumber yang disebutkan di atas. Pemerintah juga harus mendorong para pengusaha agar produk detergen tidak lagi mengandung fosfat. Begitu pula produk makanan dan minuman diusahakan juga tidak mengandung bahan aditif fosfat. Di samping itu, dituntut pula peran pemerintah di sektor pertanian agar penggunaan pupuk fosfat tidak berlebihan, serta perannya dalam pengelolaan sektor peternakan yang bisa mencegah lebih banyaknya lagi fosfat lepas ke lingkungan air. Bagi masyarakat dianjurkan untuk tidak berlebihan mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung aditif fosfat.
Di negara-negara maju masyarakat yang sudah memiliki kesadaran lingkungan (green consumers) hanya membeli produk kebutuhan rumah sehari-hari yang mencantumkan label phosphate free atau environmentally friendly.
Negara-negara maju telah menjadikan problem eutrofikasi sebagai agenda lingkungan hidup yang harus ditangani secara serius.
Sebagai contoh, Australia sudah mempunyai program yang disebut The National Eutrophication Management Program, yang didirikan untuk mengoordinasi, mendanai, dan menyosialisasi aktivitas riset mengenai masalah ini. AS memiliki organisasi seperti North American Lake Management Society yang menaruh perhatian besar terhadap kelestarian danau melalui aktivitas sains, manajemen, edukasi, dan advokasi.
Selain itu, mereka masih mempunyai American Society of Limnology and Oceanography yang menaruh bidang kajian pada aquatic sciences dengan tujuan menerapkan hasil pengetahuan di bidang ini untuk mengidentifikasi dan mencari solusi permasalahan yang diakibatkan oleh hubungan antara manusia dengan lingkungan.
Negara-negara di kawasan Eropa juga memiliki komite khusus dengan nama Scientific Committee on Phosphates in Europe yang memberlakukan The Urban Waste Water Treatment Directive 91/271 yang berfungsi untuk menangani problem fosfat dari limbah cair dan cara penanggulangannya. Mereka juga memiliki jurnal ilmiah European Water Pollution Control, di samping Environmental Protection Agency (EPA) yang memberlakukan peraturan dan pengawasan ketat terhadap pencemaran lingkungan.
 
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010. www/dampakpencemaranterhadaplingkunganchem-is-try.orgsituskimiaindonesia.htm. Diakses pada tanggal 16 maret 2010.
Anonim. 2010. www/pewarna/bahan_pewarna.htm. Diakses pada tanggal 16 maret 2010.
Anonim. 2008. www/pewarna/batik.sebaiknya.gunakan.pewarna.alami.htm. Diakses pada tanggal 16 maret  2010.
Anonim.2006..www/pewarna/free-azo-dye-mengapa-pewarna-azo-berbahaya-iid-73167119.htm. diakses pada tanggal 16 maret 2010
Anonim. 2010. www/pewarna/viewkoleksi.jsp.htm. Diakses pada tanggal 2010.
Ester, Monika. 2006. Bahaya Bahan Kimia pada Kesehatan Manusia dan lingkungan. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar.
Laporan jurnalis kompas. 2008. Ekspedisi Bengawan Solo. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Pararaja, Arifin. 2008. www.mengenalkimiazatwarna(colorant)smknegeri3kimia madiun.htm. Diakses pada tanggal 16 maret 2010.

2 komentar:

  1. maav,,,
    mau tanya ada yang tenttang bahaya pewarna makanan ponceau 4R g ya ,,,,?
    mhon bantuannnya ..
    terimakasi ^_^

    BalasHapus
  2. Apabila Anda mempunyai kesulitan dalam pemakaian / penggunaan chemical , atau yang berhubungan dengan chemical,oli industri, jangan sungkan untuk menghubungi, kami akan memberikan solusi Chemical yang tepat kepada Anda,mengenai masalah yang berhubungan dengan chemical.Harga
    Terjangkau
    Cost saving
    Solusi
    Penawaran spesial
    Hemat biaya Energi dan listrik
    Mengurangi mikroba & menghilangkan lumut


    Salam,
    (Tommy.k)
    WA:081310849918
    Email: Tommy.transcal@gmail.com
    Management
    OUR SERVICE
    1.
    Coagulan, nutrisi dan bakteri
    Flokulan
    Boiler Chemical Cleaning
    Cooling tower Chemical Cleaning
    Chiller Chemical Cleaning
    AHU, Condensor Chemical Cleaning
    Chemical Maintenance
    Waste Water Treatment Plant Industrial & Domestic (WTP/WWTP/STP)
    Garment wash
    Eco Loundry
    Paper Chemical
    Textile Chemical
    Degreaser & Floor Cleaner Plant

    2.
    Oli industri
    Oli Hydrolik (penggunaan untuk segala jenis Hydrolik)
    Rust remover
    Coal & feul oil additive
    Cleaning Chemical
    Lubricant
    3.
    Other Chemical
    RO Chemical
    Hand sanitizer
    Disinfectant
    Evaporator
    Oli Grease
    Karung
    Synthetic PAO.. GENLUBRIC VG 68 C-PAO
    Zinc oxide
    Thinner
    Macam 2 lem
    Alat-alat listrik
    Packaging
    Pallet
    CAT COLD GALVANIZE COMPOUND K 404 CG
    Almunium

    BalasHapus