Rabu, 25 Januari 2012

PELAPUKAN DAN EROSI



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Kita hidup dipermukaan bumi yang tersusun atas batuan. Batuan berkembang dengan berbagai cara, dari batuan cair panas yang muncul dari dalam Bumi, sisa fosil  hewan atau tumbuhan yang
membatu setelah jutaan tahun, serta akibat panas dan tekanan di dalam bumi. Tidak ada batuan yang abadi. Seiring waktu batuan menjadi lapuk oleh air, angin dan kekuatan erosi lain yang sangat besar.
Proses perombakan dan penghancuran batuan di permukaan secara berulang-ulang akan membentuk wajah dari permukaan bumi. Proses ini tidak terjadi sendirinya tetapi melalui berbagai proses yang panjang dengan melibatkan beberapa bentuk tenaga geologi, yaitu tenaga endogen (berasal dari dalam Bumi) dan tenaga endogen (berasal dari luar Bumi).
Bentuk tenaga endogen meliputi proses tektonik, vulkanik dan gempa bumi, sedangkan bentuk tenaga eksogen meliputi pelapukan, erosi dan pengendapan atau sedimentasi. Pada makalah ini akan dibahas secara khusus tentang proses pelapukan dan erosi dalam membentuk permukaan bumi serta dampak yang ditimbulkan dari proses tersebut.  
Pelapukan dan erosi merupakan proses eksogenik yang bekerja pada permukaan Bumi. Bentuk tenaga yang bekerja antara lain perubahan dinamika suhu, massa air, angin, serta aktivitas organisme termasuk manusia. Pelapukan adalah perusakan massa batuan pembentuk litosfer menjadi bagian-bagian kecil. Batuan yang berada di permukaan bumi sangat rawan terhadap pelapukan baik karena proses fisik maupun kimia. Setelah batuan melapuk dan jika ada aliran tenaga yang kuat akan membawa material hasil pelapukan ini. Proses tersebut dinamakan erosi. Erosi merupakan pengikisan permukaan kulit bumi karena aliran air, es atau angin.  


B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan suatu permasalahan sebagai berikut :
1.      Apa yang dimaksud dengan pelapukan dan erosi ?
2.      Bagaimana klasifikasi serta proses terjadinya peristiwa pelapukan dan erosi ?
3.      Factor-faktor apa yang mempengaruhi tingkat pelapukan dan erosi ?
4.      Bagaimana dampak yang ditimbulkan dari proses pelapukan dan erosi ?
5.      Bagaimana cara penanggulangan dari dampak buruk yang dihasilkan erosi ?
C.    Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah diatas yaitu :
1.    Mampu mendeskripsikan pengertian, klasifikasi dan proses dari pelapukan dan erosi
2.    Mampu menjelaskan factor-faktor yang mempengaruhi tingkat pelapukan dan erosi.
3.    Menjelaskan dampak yang ditimbulkan dari proses pelapukan dan erosi serta memberikan solusi penanggulangan dampak buruk yang diakibatkan erosi.
D.      Manfaat
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini yaitu agar kita lebih mengetahui bagaimana proses pelapukan dan erosi berlangsung serta mengidentifikasi dampak positif dan negatif yang ditimbulkannya, agar kemudian kita dapat lebih bijak dalam memperlakukan lingkungan alam, untuk kelangsungan hidup  di masa depan.





BAB II
PEMBAHASAN

I. PELAPUKAN
A.    Pengertian Pelapukan
Sebagian besar batuan dan mineral terbentuk jauh di dalam kerak Bumi, tempat yang suhu dan tekanannya sangat berbeda dengan permukaan. Namun diatas tanah, batuan sangat rawan terhadap berbagai proses kimia dan fisika. Proses ini disebut pelapukan. Pelapukan merupakan proses alamiah akibat bekerjanya bekerjanya gaya-gaya alam baik secara fisik maupun kimiawi yang menyebakan terjadinya pemecah-belahan, penghancur-luluh-lantakkan dan transformasi bebatuan dan mineral-mineral penyusunnya menjadi material lepas (regolit) di permukaan bumi. Regolit ini mempunyai kedalaman dan ketebalan yang bervariasi, tergantung intensitas dan ekstensitas proses pelapukan yang terjadi.
B.     Jenis-jenis Pelapukan
Menurut proses terjadinya pelapukan dapat digolongkan menjadi 3 jenis yaitu:
a.Pelapukan Fisik
Pelapukan fisik (disintegrasi) merupakan proses  mekanik yang menyebabkan bebatuan massif pecah-hancur terfragmentasi menjadi partikel-partikel kecil tanpa ada perubahan kimiawi sama sekali. Proses ini sangat dominan pada kondisi suhu rendah seperti di kutub atau pada kondisi suhu tinggi di padang pasir. Proses pelapukan fisik terutama dipicu oleh perubahan suhu secara drsatis dan oleh hantaman air hujan, selain dapat dipicu oleh penetrasi akar dan aktivitas makhluk hidup lainnya.
Bebatuan yang tersusun oleh berbagai mineral yang beraneka sifat fisik dan kimawi apabila tiba-tiba terpapar oleh perubahan suhu drastis, akan terjadi kontraksi dan ekspansi antarfraksi penyusunnya, sehingga timbul retakan-retakan yang kemudian memicu pecah hancurnya bebatuan ini. Kecepatan proses ini tergantung pada kondisi fisik bebatuan. Bebatuan berpermukaan kasar lebih cepat ketimbang yang halus, bebatuan berwarna gelap lebih banyak menyerap panas sehingga lebih cepat ketimbang yang berwarna terang.
Proses pelapukan fisik yang dipicu air dapat terjadi lewat beberapa mekanisme :
1.    Pada bebatuan yang telah retak, air masuk ke celah-celahnya kemudian membeku, pembekuan ini menyebabkan membesarnya rekahan-rekahan tersebut. Lewat tekanan proses hodrothermal berupa siklus beku cairnya air yang silih berganti ini, bebatuan menjadi pecah hancur. Mekanisme ini umumnya terjadi pada kawasan beriklim dingin.
2.    Hanataman butiran-butiran hujan dan aliran air/es menyebabkan terjadinya pengikisan dan retaknya bebatuan, menghasilkan partikel-partikel halus yang terangkut ke tempat-tempat rendah.
b.   Pelapukan Kimiawi
Pelapukan atau transformasi kimiawi umunya merupakan proses yang menyertai proses pelapukan fisik dan menyebabkan terjadinya perubahan dalam komposisi kimiawi maupun komposisi mineral (dekomposisi) penyusun permukaan fragmen-fragmen bebatuan. Melalui proses ini bagian permukaan fragmen-fragmen dapat kehilangan sebagian mineral penyusunnya atau mengalami perubahan komposisi kimiawinya, yang kemudian menyebabkan terbentuknya mineral-mineral sekunder. Mekanisme yang terlibat dalam transformasi kimiawi ini meliputi :
·         Pelarutan (Solubilitasi)
·         Hidratasi
·         Hidrolisis
·         Oksidasi
·         Reduksi
·         Karbonatasi
·         Asidifikasi (Pengasaman)


c.       Pelapukan Biologis
Pelapukan organis adalah proses penghancuran massa batuan dengan bantuan organisme makhluk hidup dan tumbuhan. Pada umumnya pelapukan organis dipengaruhi oleh :
1.      Membusuknya sisa tumbuhan dapat membentuk asam gambut yang berakibat rusaknya bebatuan.
2.      Pengrusakan-pengrusakan oleh binatang-binatang kecil di dalam tanah.
3.      Pengrusakan batuan oleh aktiviras manusia dengan segala peralatannya baik alat tradisonal maupun mekanik.
C.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pelapukan
Banyak faktor yang mempengaruhi tingkat pelapukan batuan. Salah satu faktor terpenting adalah iklim. Iklim, pada dasarnya adalah gabungan dari dua faktor yaitu suhu dan kelembaban. Kelembapan dan suhu yang tinggi sangat disukai oleh pelapukan yang melibatkan reaksi kimia. Jadi pelapukan kimiawi umumnya terjadi pada cuaca panas dan lembab. Pada daerah beriklim dingin, yang terjadi umumnya adalah pelapukan fisik.
   Ukuran batuan dan apapun yang berada di permukaan tanah juga mempengaruhi kecepatan pelapukan batuan. Pada umumnya, batuan dengan ukuran kecil lebih cepat dilapukkan. Kecepatan proses pelapukan bebatuan dapat diindikasikan oleh jenis dan komposisi mineral/senyawa kimiawi penyusunnya. Batuan sedimen umumnya tidak melapuk secepat batuan beku maupun batuan peralihan dan batu pasir lebih resisten ketimbang batu kapur. Hal ini karena bentuknya yang lebih mampat. Bebatuan yang berkomposisi mineral lebih kompleks akan melapuk lebih mudah ketimbang yang lebih sederhana, karena dengan makin kompleksnya komposisi akan makin variatif pori-pori antarmolekul yang terbentuk dan makin tidak rata permukaannya, sehingga makin mudah mengalami proses pelapukan.
         Batuan basa lebih cepat lapuk  ketimbang batuan asam, karena terkait dengan lebih sedikitnya senyawa silikat penyusunnya yang relatif lebih lambat melapuk dan dengan lebih banyaknya senyawa lain yang mudah lapuk. Tanah yang terbentuk dari batuan asam akan bersifat fisik lebih baik, misalnya tanah berbahan induk granit, sedangkan yang berasal dari batuan basa akan bersifat kimiawi lebih baik, misalnya tanah berbahan induk basalt yang lebih kaya P dan Ca.
D.    Produk dari Pelapukan
Tanah mengandung air dan mineral yang dibutuhkan tanaman untuk membuat makanan. Tanah adalah batuan yang telah mengalami pelapukan. Tanah merupakan campuran dari batuan hasil pelapukan dan humus. Humus adalah material yang diproduksi dari sisa-sisa hewan dan tumbuhan yang mati dan membusuk.. Humus merupakan nutrisi utama yang dibutuhklan tanaman untuk tumbuh. Humus yang bercampur dengan tanah liat dan pasir akan menambah tingkat nutrisi dari tanah.
II. EROSI
A. Pengertian Erosi
Setelah permukaan batuan terlapuk dan jika ada aliran tenaga yang kuat akan membawa material hasil pelapukan ini. Proses ini disebut erosi. Erosi didefenisikan sebagai suatu peristiwa hilang atau terkikisnya tanah atau bagian tanah dari suatu tempat yag terangkut dari suatu tempat ketempat lain, baik disebabkan oleh pergerakan air , angin dan/atau es.
Erosi juga dapat didefenisikan sebagai  peristiwa pengikisan padatan (sedimen, tanah, batuan, dan partikel lainnya) akibat transportasi angin, air atau es, karakteristik hujan, creep pada tanah dan material lain di bawah pengaruh gravitasi, atau oleh makhluk hidup misal hewan yang membuat liang, dalam hal ini disebut bio-erosi. Erosi tidak sama dengan pelapukan akibat cuaca, yang mana merupakan proses penghancuran mineral batuan dengan proses kimiawi maupun fisik, atau gabungan keduanya.
Erosi sebenarnya merupakan proses alami yang mudah dikenali, namun di kebanyakan tempat kejadian ini diperparah oleh aktivitas manusia dalam tata guna lahan yang buruk, penggundulan hutan, kegiatan pertambangan, perkebunan dan perladangan, kegiatan konstruksi / pembangunan yang tidak tertata dengan baik dan pembangunan jalan. Tanah yang digunakan untuk menghasilkan tanaman pertanian  biasanya mengalami erosi yang jauh lebih besar dari tanah dengan vegetasi alaminya. Alih fungsi hutan menjadi ladang pertanian meningkatkan erosi, karena struktur akar tanaman hutan yang kuat mengikat tanah digantikan dengan struktur akar tanaman pertanian yang lebih lemah. Bagaimanapun, praktek tata guna lahan yang maju dapat membatasi erosi, menggunakan teknik semisal terrace-building, praktek konservasi ladang dan penanaman pohon.
a.        Jenis-Jenis Erosi
Berdasarkan tenaga pengikis, erosi dibedakan menjadi empat, antara lain :
1. Ablasi (Pengikisan oleh air)
Umum terjadi di wilayah iklim tropik (yang curah hujan sangat tinggi).

Bentuk-bentuk ABLASI, antara lain :
a.  Erosi Percik (splash erosion)
Erosi ini berupa percikan partikel-partikel tanah halus yang disebabkan oleh tetes hujan pada tanah dalam keadaan basah. Tanda-tanda nyata adanya erosi percik pada musim hujan dapat dilihat pada permukaan daun yang terdapat pada partikel tanah,  adanya batuan kerikil diatas lapisan tanah. Jadi, jenis erosi ini dapat diamati pada waktu musim hujan.
b.  Erosi Lembar (sheet erosion)
Erosi ini memecah partikel tanah pada lapisan tanah yang hampir seragam, sehingga erosi ini menghasilkan kenampakan yang seragam. Intensitas dan lamanya hujan melebihi kapasitas infiltrasi. Oleh karena itu, laju erosi permukaan dipengaruhi oleh kecepatan dan turbulensi aliran.
c. Erosi Alur (rill erosion)
Erosi ini menghasilkan alur-alur yang mempunyai kedalaman yang kurang dari 30 cm dan lebar kurang dari 50 cm. Sering terjadi pada tanah-tanah yang baru saja diolah.
d. Erosi Parit (gully erosion)
Erosi ini menghasilkan alur-alur yang mempunyai kedalaman lebih dari 30 cm dan lebar lebih dari 50 cm.
e. Erosi Mudik (headward erosion)
Erosi ini menyebabkan lembah parit diperpanjang ke hulu.
f. Erosi vertikal (erosi internal atau subsurface erosion)
Erosi ini menyebabkan lembah bertambah dalam.
g. Erosi lateral
Erosi ini mengikis di tepi sungai, melebarkan lembah dan menyebabkan meandering.
2. Deflasi atau Korasi
Proses pengikisan batuan atau tanah yang dilakukan oleh angin disebut Deflasi atau Korasi. Erosi oleh tenaga angin banyak terjadi di daerah gurun atau kering. Bentuk-bentuk lahan yang dapat diamati akibat erosi angin antara lain batu jamur. Contohnya adalah dapat membentuk Mushroom Rock. Berdasarkan teori, adanya gurun pasir karena proses pelapukan mekanis. Proses ini dimulai ketika suhu siang hari yang terik memanasi batuan gurun sampai diatas 80 derajat celcius sehingga batuan itu memuai. Selama beribu-ribu tahun, angin gurun mengeruk batuan yang hancur dan mengangkut butiran- butiran pasir halus. Lama-lama pasir itu menumpuk menjadi bukit pasir yang halus.
3.Eksarasi (glasiasi)
Erosi oleh gletser dan sering disebut erosi glasial, yaitu erosi yang terjadi akibat pengikisan massa es yang bergerak menuruni lereng dan dapat terjadi di pegunungan tinggi yang tertutup salju, misalnya di Pegunungan Alpen, Pegunungan Himalaya, dan Pegunungan Rocky. Ciri khas bentuk lahannya adalah adanya alur-alur lembah yang arahnya relatif sejajar. Erosi ini yang berlangsung lama dapat membuat lembah-lembah yang dalam dengan bentuk seperti huruf U. Endapan erosi oleh gletser disebut dengan MORAINE.
4. Abrasi
Erosi berdampak juga pada perubahan muka Bumi. Abrasi (erosi di pantai) yaitu erosi oleh air laut atau ombak yang dibantu dengan adanya batu-batu kerikil dibawa pecahan ombak akan mengikis daerah sekitar pantai dan kekuatan pengikisan sebanding dengan besarnya gelombang. Kejadian seperti ini pernah terjadi di Jayapura, abrasi di sepanjang pantai di Pulau Biak mencapai 75 m dari garis pantai. Sejumlah karang dan pulau rusak bahkan tenggelam akibat pengikisan. Pulau-pulau yang tenggelam tersebut sebelumnya merupakan objek wisata yang sangat indah di pulau Biak. Jadi, proses abrasi dan erosi oleh tenaga gelombang atau air laut yaitu:
·         Abrasi menghasilakan cekungan yang panjang pada garis pantai.
·         Kemudian, cekungan tererosi lebih lanjut menjadi gua.
·         Erosi lebih lanjut oleh gelombang menyebabkan runtuhnya atap gua ke laut dan terbentuklah cliff (dinding terjal).
·         Erosi yang terus-menerus, menyebabkan cliff runtuh. Pada periode waktu yang panjang, proses ini berlangsung terus-menerus menyebabkan terbentuknya platform di kaki cliff.
Beberapa bentuk lahan akibat erosi oleh tenaga gelombang antara lain, sebagai berikut :
1.      Cliff, yaitu pantai yang berdinding curam sampai tegak.
2.      Relung,yaitu cekungan-cekungan yang terdapat pada dinding cliff.
3.      Dataran abrasi, yaitu hamparan wilayah yang datar akibat abrasi dan dapat terlihat dengan jelas pada saat pasang surut.
Ada dua macam erosi, yaitu erosi normal dan erosi dipercepat. Erosi normal juga disebut erosi geologi atau erosi alami merupakan proses-proses pengangkutan tanah yang terjadi dibawah keadaan vegetasi alami. Biasanya terjadi dengan laju yang lambat yang memungkinkan terbentuknya tanah yang tebal yang mampu mendukung pertumbuhan vegetasi secara normal. Erosi dipercepat adalah pengangkutan tanah yang menimbulkan kerusakan tanah sebagai akibat perbuatan manusia yang mengganggu keseimbangan antara proses pembentukan dan pengangkutan tanah.
B.     Proses Terjadinya Erosi
Erosi air timbul apabila aksi dispersi dan tenaga pengangkut oleh air hujan yang mengalir ada di permukaan dan atau di dalam tanah. Jadi erosi dapat terjadi minimal dengan satu tahapan yakni dispersi oleh butir hujan dan/atau oleh air limpasan.  Adapun tahapan erosi meliputi :
1.      Benturan butir-butir hujan dengan tanah.
2.      Percikan tanah oleh butir hujan ke semua arah.
3.      Penghancuran bongkah tanah oleh butiran hujan.
4.      Pemadatan tanah.
5.      Penggenangan air di permukaan.
6.      Pelimpasan air karena adanya penggenangan dan kemiringan lahan.
7.      Pengangkutan partikel terpecik dan/atau massa tanah yang terdispersi oleh air limpasan.
C.    Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Erosi
Banyaknya erosi tergantung berbagai faktor. Faktor Iklim, termasuk besarnya dan intensitas hujan / presipitasi, rata-rata dan rentang suhu, begitu pula musim, kecepatan angin, frekuensi badai. faktor geologi termasuk tipe sedimen, tipe batuan, porositas dan permeabilitasnya, kemiringn lahan. Faktor biologis termasuk tutupan vegetasi lahan,makhluk yang tinggal di lahan tersebut dan tata guna lahan oleh manusia.
Umumnya, dengan ekosistem dan vegetasi yang sama, area dengan curah hujan tinggi, frekuensi hujan tinggi, lebih sering kena angin atau badai tentunya lebih terkena erosi. sedimen yang tinggi kandungan pasir atau silt, terletak pada area dengan kemiringan yang curam, lebih mudah tererosi, begitu pula area dengan batuan lapuk atau batuan pecah. porositas dan permeabilitas sedimen atau batuan berdampak pada kecepatan erosi, berkaitan dengan mudah tidaknya air meresap ke dalam tanah. Jika air bergerak di bawah tanah, limpasan permukaan yang terbentuk lebih sedikit, sehingga mengurangi erosi permukaan. Sedimen yang mengandung banyak lempung cenderung lebih mudah bererosi daripada pasir atau silt. Dampak sodium dalam atmosfir terhadap erodibilitas lempung juga sebaiknya diperhatikan
Faktor yang paling sering berubah-ubah adalah jumlah dan tipe tutupan lahan. pada hutan yang tak terjamah, minerla tanah dilindungi oleh lapisan humus dan lapisan organik. kedua lapisan ini melindungi tanah dengan meredam dampak tetesan hujan. lapisan-lapisan beserta serasah di dasar hutan bersifat porus dan mudah menyerap air hujan. Biasanya, hanya hujan-hujan yang lebat (kadang disertai angin ribut) saja yang akan mengakibatkan limpasan di permukaan tanah dalam hutan. bila Pepohonan dihilangkan akibat kebakaran atau penebangan, derajat peresapan air menjadi tinggi dan erosi menjadi rendah. kebakaran yang parah dapat menyebabkan peningkatan erosi secara menonjol jika diikuti dengan hujan lebat. dalam hal kegiatan konstruksi atau pembangunan jalan, ketika lapisan sampah / humus dihilangkan atau dipadatkan, derajad kerentanan tanah terhadap erosi meningkat tinggi.
Pada dasarnya erosi dipengaruhi oleh tiga faktor utama, ketiga kelompok tersebut meliputi :
1.      Energi : hujan, air limpasan, angin, kemiringan dan panjang lereng.
2.      Ketahanan : erodibilitas tanah (ditentukan oleh sifat fisik dan kimia tanah).
3.      Proteksi : penutupan tanah baik oleh vegetasi atau lainnya serta ada atau tidaknya tindakan konservasi.
Jalan, secara khusus memungkinkan terjadinya peningkatan derajat erosi, karena, selain menghilangkan tutupan lahan, jalan dapat secara signifikan mengubah pola drainase, apalagi jika sebuah embankment dibuat untuk menyokong jalan. Jalan yang memiliki banyak batuan dan hydrologically invisible ( dapat menangkap air secepat mungkin dari jalan, dengan meniru pola drainase alami) memiliki peluang besar untuk tidak menyebabkan pertambahan erosi.
Berbicara tentang erosi, maka tidak lepas dari aliran permukaan. Dengan adanya aliran air di atas permukaan tanah, tanah dapat terkikis dan selanjutnya diangkut ke tempat yang lebih rendah. Dengan demikian terjadilah perpindahan lapisan tanah; mineral-mineral dan bahan organik yang terdapat pada permukaan tanah. Erosi adalah hilangnya atau terkikisnya tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat yang diangkut oleh media alami ketempat lain.
D. Dampak Erosi
Dampak dari erosi adalah menipisnya lapisan permukaan tanah bagian atas, yang akan menyebabkan menurunnnya kemampuan lahan (degradasi lahan). Akibat lain dari erosi adalah menurunnya kemampuan tanah untuk meresapkan air (infiltrasi). Penurunan kemampuan lahan meresapkan air ke dalam lapisan tanah akan meningkatkan limpasan air permukaan yang akan mengakibatkan banjir di sungai. Selain itu butiran tanah yang terangkut oleh aliran permukaan pada akhirnya akan mengendap di sungai (sedimentasi) yang selanjutnya akibat tingginya sedimentasi akan mengakibatkan pendangkalan sungai sehingga akan mempengaruhi kelancaran jalur pelayaran.
Erosi dipercepat dapat menimbulkan berbagai masalah antara lain :
a.       Merosotnya peroduktivitas tanah pada lahan yang tererosi, yang disertai dengan merosotnya daya dukung serta kualitas lingkungan hidup.
b.      Sungai, waduk, dan saluran irigasi/drainase di daerah hilir menjadi dangkal, sehingga daya guna dan basil guna berkurang.
c.       Secara tidak langsung mengakibatkan terjadinya banjir yang kronis pada setiap musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau.
d.      Dapat menghilangkan fungsi hidrologi tanah.
Erosi juga dapat berpengaruh terhadap penurunan produksi tanah akibat :
1.      Pemiskinan tanah/hilangnya tanah lapisan atas.
2.      Memburuknya sifat fisik dan kimia tanah.
3.      Berkurangnya aktivitas biologi tanah.
4.      Tertutupnya tanah lapisan atas.
Erosi mengakibatkan tersingkapnya lapisan tanah yang lebih asam (pH rendah), terbentuknya lapisan dengan kandungan aluminium yang lebih tinggi menurunkan kandungan bahan organik (C) dan nitrogen (N), unsur-unsur hara lebih rendah, dan terbentuknya lapisan bawah yang lebih padat.
Dengan terjadinya erosi ini maka menimbulkan pelumpuran sistem irigasi disamping terjadinya pencemaran air dan berkurangnya kapasitas waduk. Erosi tanah dan pelumpuran aliran sungai makin lama makin bertambah, salah satu penyebabnya adalah penggundulan hutan di hulu sungai dan tofografi/kemiringan tanah
E. Cara Penanggulangan Erosi
            Usaha untuk mencegah erosi di lakukan dengan pengolahan pada tanah. Usaha ini sering disebut konservasi tanah. Untuk mengetahui cara konservasi tanah, sebelumnya harus mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya erosi dan peranannya. Faktor iklim, terutama curah hujan dapat menyebabkan erosi. Curah hujan yang tinggi dengan intensitas yang lama sangat mendukung terjadinya erosi. Salah satu contoh pengendalian faktor ini dapat dilakukan dengan membuat saluran air, sehingga air hujan yang jatuh dapat diatur dan akan dimanfaatkan untuk irigasi.
BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan di atas maka dapat disimpulkan bahwa:
1.        Pelapukan merupakan proses alamiah akibat bekerjanya bekerjanya gaya-gaya alam baik secara fisik maupun kimiawi yang menyebakan terjadinya pemecah-belahan, penghancur-luluh-lantakkan dan transformasi bebatuan dan mineral-mineral penyusunnya menjadi material lepas (regolit) di permukaan bumi.
2.        Menurut proses terjadinya pelapukan dapat digolongkan menjadi 3 jenis yaitu:
a.    Pelapukan fisik
b.    Pelapukan kimiawi
c.                                                                                         Pelapukan biologi
3.        Erosi didefenisikan sebagai suatu peristiwa hilang atau terkikisnya tanah atau bagian tanah dari suatu tempat yag terangkut dari suatu tempat ketempat lain, baik disebabkan oleh pergerakan air , angin dan/atau es.
4.        Adapun tahapan erosi meliputi :
b.    Benturan butir-butir hujan dengan tanah.
c.     Percikan tanah oleh butir hujan ke semua arah.
d.    Penghancuran bongkah tanah oleh butiran hujan.
e.     Pemadatan tanah.
f.     Penggenangan air di permukaan.
g.    Pelimpasan air karena adanya penggenangan dan kemiringan lahan.
h.    Pengangkutan partikel terpecik dan/atau massa tanah yang terdispersi oleh air limpasan.

  
DAFTAR PUSTAKA


Anonim. 2010. Erosi. http://karangsambung.lipi.go.id/?p=152. Diakses pada 18 Maret 2010.
Anonim. 2010. Erosi dari Wikipedia. http://id.wikipedia.org/wiki/Erosi. diakses pada 18 Maret 2010.
Budiman, Arie, dkk. 2007. Membaca Gerak Alam dan Semesta, Mengenal Jejak Sang Pencipta. Jakarta : LIPI Press.

Danielson, W. Erick. 1986. Earth Science. London: macmillan Publisher.

Hynes, Margaret. 2006. Batuan dan Fosil (diterjemahkan oleh Bob Sabran). Jakarta : Erlangga.

Utoyo, Bambang. 2007. Geografi Membuka cakrawala Dunia. Bandung: PT. Setia Purna Inves.

1 komentar:

  1. salam....saya izin menyalin filenya...terimaksih/ kak fian

    BalasHapus