Selasa, 24 Januari 2012

Pembuatan Pupuk Kompos Secara Fermentasi


A.    PRODUK YANG DIHASILKAN
Pupuk Kompos

B.  BIAYA
Bioaktivator (Mikroorganisme)                 = Rp 5000
Toples Plastik                                             = Rp 3000
Sayur                                                          = Rp 1000      
Total biaya                                                = Rp 9000

C.  DASAR PRINSIP
Pengomposan didefinisikan sebagai suatu proses dekomposisi (penguraian) secara biologis dari senyawa-senyawa organik yang terjadi karena adanya kegiatan mikroorganisme melalui proses fermentasi.


D.   ALAT dan BAHAN
·         Wadah tempat kompos
·         Sayur yang telah dipotong
·         Mikroorganisma pengurai sebagai activator (EM-4)
·         Air
·         Alat pengaduk
·         Selang (Pipa)

E.      PROSEDUR KERJA
  • Bahan sampah dimasukkan didalam wadah, kemudian ditambahkan mikroorganisma pengurai
  • Lakukan terus menerus sampai wadah penuh
  • Disiram dengan air secara merata
  • Pada hari ke 5 -7, media dapat diaduk-aduk. Pengadukan diulang setiap lima hari dan dihentikan sampai sampah menjadi hitam dan hancur.
  • Sampah telah berubah menjadi kompos.

F.    URAIAN
Kompos merupakan pupuk yang terbuat dari bahan organik yang penting dan banyak dibutuhkan tanaman. Kompos terbuat dari bagian-bagian tanaman yang telah mengalami penguraian oleh mikroorganisme. Pada awalnya, kompos tersedia berlimpah dihutan dan ladang pertanian (bekas tebangan hutan). Kompos berasal dari dedaunan dan ranting pohon yang mengalami pembusukan secara alami oleh bakteri pengurai dan jamur. Kompos kemudian menjadi penyubur kawasan hutan an kadang-kadang dimanfaatkan oleh penduduk sekitar hutan. Kadang-kadang penduduk disekitar hutan sengaja membakar habis hutan untuk membuka lahan pertanian, dan memanfaatkan kompos alami atau humus sebagai pupuknya.
            Kompos yang merupakan pupuk organik memiliki kandungan unsur hara yang ramah lingkungan. Unsur hara yang terdapat pada kompos tidak akan merusak tanah seperti pupuk buatan pabrik (pupuk anorganik). Kompos juga bersifat slow release sehingga tidak berbahaya bagi tanaman walaupun digunakan dalam jumlah yang cukup banyak.
            Kompos sangat baik digunakan sebagai pupuk pada tanah-tanah yang berstektur keras untuk memperbaiki strukturnya. Biasanya penggunaan kompos diimbangi dengan pemberian pupuk kandang. Hal ini akan membantu meningkatkan kandungan unsur hara didalam tanah.

Tabel Perbandigan Unsur Hara Pada Beberapa Jenis Pupuk Kandang dan Kompos
Jenis pupuk kandang
Kandungan unsur hara
N (%)
P
 (%)
K (%)
Ca (%)
Mg (%)
Mn
(Mg/Kg)
Zn
 (Mg/Kg)
B (Mg/Kg)
Sapi
2,33
0,61
1,58
1,040
0,38
1792,0
70,5
3,69
Kuda
1,57
0,68
0,77
1,640
0,49
2478,5
109,5
3,60
Domba
2,46
0,76
2,03
1,990
0,70
3773,0
111,0
8,67
Ayam
3,21
3,21
1,57
9,625
1,44
2506,0
315,0
11,43
Kompos
1,69
0,34
2,81
4,2
1,1
684(ppm)
144(ppm)

Kascing
1,182
456,74
1,500
0,208
0,048
1610,6769(ppm)
74,032(ppm)


 
G.     PEMBAHASAN
     Dalam proses pengomposan, sampah organik secara alami akan diuraikan oleh berbagai jenis mikroba atau jasad renik seperti bakteri, jamur, aktinomicetes, dsb. Proses peruraian ini memerlukan kondisi yang optimal seperti ketersediaan nutrisi yang memadai, udara yang cukup, kelembapan yang tepat, dsb. Makin sesuai kondisi lingkungannya, makin cepat prosesnya dan makin tinggi pula mutu komposnya.
         Dalam pengomposan, mula-mula sejumlah mikroba aerobik - yaitu mikroba yang tidak bisa hidup bila tidak ada udara - akan menguraikan senyawa kimia rantai panjang yang dikandung sampah seperti selulosa, karbohidrat, lemak, protein, dsb. menjadi senyawa yang lebih sederhana, gas karbondioksida dan air.
Penguraian terjadi di selaput air yang terdapat di permukaan bahan yang dikomposkan. Dalam medium air tersebut, mikoorganisma mengeluarkan enzim ke habitat tersebut yang kemudian membantu reaksi senyawa-senyawa kimia yang terdapat di permukaan bahan.Senyawa-senyawa sederhana hasil penguraian tersebut merupakan nutrisi yang dapat diserap oleh mikroorganisma untuk keperluan hidupnya. Mikroba yang berperan dalam penguraian tersebut adalah mikroorganisma mesofilik (hidup pada suhu di bawah 45 oC).Dengan ketersediaan nutrisi yang melimpah, mikroba tumbuh dan berkembang biak secara cepat sehingga jumlahnya berlipat ganda. Akibatnya, reaksi penguraian juga berjalan cepat.Pencapaian suhu yang tinggi dalam proses pengomposan sangat penting untuk menjamin produk kompos yang dihasilkannya agar bebas dari bibit gulma (yang terbawa dari potongan rumput) dan bakteri patogen (seperti e.coli dan salmonella).Untuk menjaga kelangsungan hidup mikroba yang berperan dalam proses pengomposan, dalam waktu-waktu tertentu, sampah diaduk agar udara dapat masuk ke dalamnya. Sampah juga harus disiram jika kelembapannya kurang. Penyiraman tidak boleh berlebihan karena akan menutup pori-pori sampah sehingga udara tidak bisa masuk.
 
                Pada fase selanjutnya, senyawa-senyawa kimia sampah tahap demi tahap diuraikan menjadi berbagai macam senyawa yang lebih sederhana lagi, sampai akhirnya senyawa kimia yang menjadi makanan mikroba berangsur-angsur menjadi terbatas.
         Fermentasi adalah penguraian metabolik snyawa oganik oleh mikro organisme yang menghasilkan energi dan umumnya erlangsung dengan kondisi anaerobik dan pembebasan gas. Sedangkan enzimatis adalah proses dimana katalis yang dihasikan oleh sel-sel hidup berfungsi mempercepat reaki kimia didalam jaringan organisme
         Ciriciri kompos yang baik adalah sebagai berikut :
  1. tidak berbau busuk tetapi berbau tanah
  2. warna kehitaman atau coklat kehitaman, berbentuk butiran seperti tanah
  3. suhu sama dengan suhu tanah
  4. jika dimasukkan kedalam air seluruhnya tenggelam dan warna air keruh tetapi bening. Jika sebagian besar mengambang, berarti ada bahan yang belum menjadi kompos (dari pembusukan atau pembakaran sampah). Jika airnya keruh berarti mengandung air lindih dari pembusukan sampah
  5. jika digunakan untuk pupuk tidak tumbuh tanaman yang tidak dikehendaki (gulma)
         Pada minggu kelima dan keenam suhu menurun menuju suhu udara yaitu 30-32 oC. Pada saat itulah hasil peruraian sampah akhirnya menjadi materi yang relatif stabil yang disebut sebagai kompos.
 
         Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembuatan kompos :
A.      Kebutuhan Nutrisi
Untuk perkembangbiakan dan pertumbuhannya, mikroorganisme memerlukan sumber energi, yaitu karbon untuk proses sintesa jaringan baru dan elemen-elemen anorganik seperti nitrogen, fosfor, kapur, belerang dan magnesium sebagai bahan makanan untuk membentuk sel-sel tubuhnya. Selain itu, untuk memacu pertumbuhannya, mikroorganisme juga memerlukan nutrien organik yang tidak dapat disintesa dari sumber-sumber karbon lain. Nutrien organik tersebut antara lain asam amino, purin/pirimidin, dan vitamin.

B.    Mikroorganisme
Mikroorganisme pengurai dapat dibedakan antara lain berdasarkan kepada struktur dan fungsi sel, yaitu:

1.   Eucaryotes, termasuk dalam dekomposer adalah eucaryotes bersel tunggal, antara lain : ganggang, jamur, protozoa.
2.   Eubacteria, bersel tunggal dan tidak mempunyai membran inti, contoh: bakteri.

C.    Kondisi Lingkungan Ideal 
Efektivitas proses pembuatan kompos sangat tergantung kepada mikroorganisme pengurai. Apabila mereka hidup dalam lingkungan yang ideal, maka mereka akan tumbuh dan berkembang dengan baik pula. Kondisi lingkungan yang ideal mencakup:

1.     Keseimbangan nutrien ( C / N ratio );
2.     Kelembaban;
3.     Derajat keasaman;
4.     Suhu;
5.     Ukuran partikel; dan
6.     Homogenitas campuran.


1.     Keseimbangan Nutrien (Rasio C/N).
Parameter nutrien yang paling penting dalam proses pembuatan kompos adalah unsur karbon dan nitrogen. Dalam proses pengurai terjadi reaksi antara karbon dan oksigen sehingga menimbulkan panas (CO2). Nitrogen akan ditangkap oleh mikroorganisme sebagai sumber makanan. Apabila mikroorganisme tersebut mati, maka nitrogen akan tetap tinggal dalam kompos sebagai sumber nutrisi bagi makanan.
Besarnya perbandingan antara unsur karbon dengan nitrogen tergantung pada jenis sampah sebagai bahan baku. Perbandingan C dan N yang ideal dalam proses  pengomposan   yang  optimum  berkisar  antara  20 : 1  sampai  dengan 40 : 1, dengan rasio terbaik adalah 30 : 1.

2.     Derajat Keasaman (pH)
Derajat keasaman (pH) ideal dalam proses pembuatan kompos secara aerobik berkisar pada pH netral (6 – 8,5), sesuai dengan pH yang dibutuhkan tanaman. Pada proses awal, sejumlah  mikroorganisme akan mengubah sampah organik menjadi asam-asam organik, sehingga derajat keasaman akan selalu menurun. Pada proses selanjutnya derajat keasaman akan meningkat secara bertahap yaitu pada masa pematangan, karena beberapa jenis mikroorganisme memakan asam-asam organik yang terbentuk tersebut.
Derajat keasaman dapat menjadi faktor penghambat dalam proses pembuatan kompos, yaitu dapat terjadi apabila :
pH terlalu tinggi (unsur N akan menguap menjadi NH3. NH3 yang terbentuk akan sangat mengganggu proses karena bau yang menyengat. Senyawa ini dalam kadar yang berlebihan dapat memusnahkan mikroorganisme. pH terlalu rendah (di bawah 6), kondisi menjadi asam dan dapat menyebabkan kematian jasad renik.
 
3.     Suhu (Temperatur) 
Proses biokimia dalam proses pengomposan menghasilkan panas yang sangat penting bagi mengoptimumkan laju penguraian dan dalam menghasilkan produk yang secara mikroorganisme aman digunakan. Pola perubahan temperatur dalam tumpukan sampah bervariasi sesuai dengan tipe dan jenis mikroorganisme. Pada awal pengomposan, temperatur mesofilik, yaitu antara 25 – 45o C akan  terjadi dan segera diikuti oleh temperatur termofilik antara 50 – 65o C. Temperatur termofilik dapat berfungsi untuk a) mematikan bakteri/bibit penyakit baik patogen maupun bibit vektor penyakit seperti lalat; b) mematikan bibit gulma. Tabel 1 menunjukkan suhu dan waktu yang dibutuhkan untuk mematikan beberapa organisme patogen dan parasit. Kondisi termofilik, kemudian berangsur-angsur akan menurun mendekati tingkat ambien.
Tabel. Suhu dan Waktu yang Dibutuhkan Untuk Mematikan Organisme Patogen

No

 

Organisme Patogen

Suhu dan Waktu yang Dibutuhkan


Suhu (C)
Waktu (menit)
1

2

3
4

5
6
7
8

9
10
11

12
13
14

Salmonella typhosa

Salmonella sp.

Shigella sp.
Escerichia coli

Entamoeba hystolitica
Taenia saginata
Trichinella spiralis sp.
Brucella abortus

Micrococcus pyogenes var aureus
Srteptococcus pyogenes
Mycobacterium tubercolosis varhominis

Corynebacterium diphtheriae
Necator americanus
Ascaris lumbricoides (telur)
55-60
60
55
60
55
55
60
45
55
55
62-63
55
50
54
66
67

55
45
50
30
20
60
15-20
60
60
15-20
beberapa menit
beberapa detik
beberapa saat
3
60
10
10
15-20
Sesaat setelah pemanasan
45
50
< 1


4.     Ukuran Partikel Sampah 
Ukuran partikel sampah yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan kompos harus sekecil mungkin untuk mencapai efisiensi aerasi dan supaya lebih mudah dicerna atau diuraikan oleh mikroorganisme. Semakin kecil partikel, semakin luas permukaan yang dicerna sehingga pengurai dapat berlangsung dengan cepat.

5.     Kelembaban Udara 
Kandungan kelembaban udara optimum sangat diperlukan dalam proses pengomposan. Kisaran kelembaban yang ideal adalah 40 – 60 % dengan nilai yang paling baik adalah 50 %. Kelembaban yang optimum  harus terus dijaga untuk memperoleh jumlah mikroorganisme yang maksimal sehingga proses pengomposan dapat berjalan dengan cepat. Apabila kondisi tumpukan terlalu lembab, tentu dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme karena molekul air akan mengisi rongga udara sehingga terjadi kondisi anaerobik yang akan menimbulkan bau. Bila tumpukan terlalu kering (kelembaban kurang dari 40%), dapat mengakibatkan berkurangnya populasi mikroorganisme pengurai karena terbatasnya habitat yang ada.

6.     Homogenitas Campuran Sampah 
Komponen sampah organik sebagai bahan baku pembuatan kompos perlu dicampur menjadi homogen atau seragam jenisnya, sehingga diperoleh pemerataan oksigen dan kelembaban. Oleh karena itu kecepatan pengurai di setiap tumpukan akan berlangsung secara seragam.
 
H.        KESIMPULAN
1. Kompos merupakan pupuk yang terbuat dari bahan organik yang telah mengalami penguraian oleh mikroorganisme melalui proses fementasi.
2. Fermentasi adalah penguraian metabolik snyawa oganik oleh mikro organisme yang menghasilkan energi dan umumnya erlangsung dengan kondisi anaerobik dan pembebasan gas. Sedangkan enzimatis adalah proses dimana katalis yang dihasikan oleh sel-sel hidup berfungsi mempercepat reaki kimia didalam jaringan organisme
3. Ciriciri kompos yang baik adalah sebagai berikut :
·               tidak berbau busuk tetapi berbau tanah
·               warna kehitaman atau coklat kehitaman, berbentuk butiran seperti tanah
·               suhu sama dengan suhu tanah
·               jika dimasukkan kedalam air seluruhnya tenggelam dan warna air keruh tetapi bening. Jika sebagian besar mengambang, berarti ada bahan yang belum menjadi kompos (dari pembusukan atau pembakaran sampah). Jika airnya keruh berarti mengandung air lindih dari pembusukan sampah
·               jika digunakan untuk pupuk tidak tumbuh tanaman yang tidak dikehendaki (gulma)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Proses Pembuatan Kompos. http://www.pusri.co.id. Diakses ONLINE 23 Maret 2009.

Sosrosoedirdjo, Soeroto, R, dkk. Ilmu Memupuk I.  C.V. Yasaguna. Jakarta.
Yoky, Edy, Saputra. 2009. Pupuk Kompos, Keniscayaan Bagi Tanaman. http://www.chem-is-try.org. Diakses online 8 Maret 2009.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar